Selasa, 28 Mei 2013

Setetes Darah Tuk Seribu Senyum

Tik.. tik..
Satu demi satu tetes darah...
Menetes membasahi baju...
Membasahi jalan...         
Bahkan menggenangi daratan...

Bruk..
Satu demi satu manusia..
Tumbang berjatuhan
Memadati kota...
Memenuhi nusantara...

Tok.. tok.. tok..
Telah beribu kali palu diketuk..
Berjuta diplomasi tlah dikerahkan..
Hanya tuk mencari titik terang..
Yang terbaik bagi semua..

Hanya satu tujuan..
Terselubung di balik semua ini..
Apakah itu?
Hingga membuat darah terus menetes..
Membuat korban terus berjatuhan..
Menyita waktu, tenaga, dan pikiran..

MERDEKA...
Indonesia merdeka...
Itulah satu-satunya emas..
Yang ingin digapai..
Demi kemakmuran seluruh rakyat...

17 Agustus 1945...
Buah dari tumpah darah Indonesia...
Buah dari semangat Indonesia...
Buah dari perjuangan Indonesia..

Tak sia-sia...
Memang tak sia-sia..
Pengorbanan berjuta pahlawan bangsa...
Sebab setetes darah..
Menciptakan seribu senyum..
Di wajah Indonesia..

Wahai, muda-mudi insan Indonesia..
Laskar generasi penerus bangsa..
Mari kita lanjutan perjuangan ini..
Demi kejayaan, kemakmuran, dan kemerdekaan..

Negara kita tercinta, Indonesia..

Angie Michaela Marella
Juni 2012
Terinspirasi dari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Jalinan Kenang

“Anak-anak, ayo bangun! Kita sudah hampir sampai di kelor. Periksa barang bawaan kalian masing-masing!” Ucap ibu guru menyadarkanku dari alam mimpi. Kulihat kedua jarum di tanganku. Masih pukul 6 pagi kurang. Kugerak-gerakkan seluruh anggota tubuhku satu per satu. Satu per satu pun berbunyi seakan mengatakan betapa pegal badanku setelah sehari semalam tidur duduk di kursi bus. Matahari mulai memancarkan sinarnya melalui jendela yang tertutup oleh tirai. Kulihat teman di sisi kanan-kiriku yang masih setengah sadar. Mereka tampak sangat nyenyak semalaman, sementara aku hampir tidak bisa tidur karena dingin dan takut akan jatuh.
Kumulai dengan menyapa teman-temanku di awal pagi ini. Tak sabar rasanya dapat melihat keadaan desa, rumah, keluarga, dan aktivitas yang akan kujalani selama 4 hari ke depan. Rasa penat dan lelahku seakan terangkat dari raga ini. Kuraih benda berwarna hitam bergaris merah muda yang tidak lain adalah tas punggungku dari bagasi dengan semangat. Kami semua melangkah pasti menuju hall kelor, mendengarkan pengarahan, membersihkan diri, dan menyantap sarapan ayam goreng yang sangat khas daerah Gunung Kidul.
Awal live in segera dimulai dengan naiknya kami satu per satu ke atas truk pasir yang siap mengantar kami ke desa-desa. Angin sepoi-sepoi sangat terasa di telinga dan pipiku. Sinar matahari menyilaukan mataku. Keramah-tamahan dan senyum manis dari orang-orang desa yang kami temui membawa kedamaian dan kehangatan tersendiri bagi diriku. Rumah-rumah berbalok yang berdiri cukup kokoh memberikan ketenangan tersendiri dalam batin. Kebersamaan bersama teman-teman berdiri di atas truk menciptakan keceriaan dan mengukir pengalaman berkesan di awal petualanganku.
            Kapel. Ya, kapel sederhana bercat putih berukuran sedang menjadi tempat di mana segala sesuatu yang baru terjadi di sini. Di sebuah ruangan cukup besar, kulihat bapak-bapak dan ibu-ibu yang asing dalam diriku, sebagian besar sudah berumur. Mereka tersenyum ramah melihat kedatangan kami. Ada kehangatan tersendiri yang ditawarkan oleh mereka yang tidak mengenali kami, mungkin ini justru pertemuan kami yang pertama. Sungguh aku merasa sangat tidak adil pada mereka. Keramah-tamahan mereka, kusambut dengan wajah dan hati yang masih setengah sadar dan pikiran khawatir akan keadaan ini itu. Hidup yang sudah begitu keras dan tidak adil bukan aku perjuangkan agar lebih baik, tetapi justru kutambah derita mereka dengan perlakuan awalku yang seperti ini. Aku semakin tidak mengerti ketika kutatap lagi wajah mereka, tidak sedikit pun ada rasa kecewa, tidak senang, ataupun duka yang terpancar dari raut wajah mereka. Hanya keramah-tamahan, sukacita, kehangatan, kedamaian, dan kebahagiaan yang mereka lemparkan kepada kami. Hati ini benar-benar mendapatkan air segar yang membuka kesadaran akan kehidupan desa yang begitu tentram. Tidak heran aku bila banyak orang ingin menenangkan diri ke desa atau tempat terpencil.
            “Selamat datang, anak-anak dan ibu guru pendamping dari SMA Santa Ursula BSD. Selamat datang di Desa Candi Rejo. Kita berkumpul di kapel ini untuk bersama-sama….,” sambut seorang bapak wakil dari desa tersebut. Bahasa Indonesia yang dipadukan dengan Bahasa Jawa membuat suasana pedesaan kian terasa. Sambutan luar biasa yang pada intinya sangat senang dengan kedatangan kami dan akan bersama-sama belajar berbagai hal selama 4 hari di desa ini. Awal perjumpaaan yang istimewa, sangat istimewa. Masih berada dalam pesona penerimaan warga desa yang begitu tulus, tiba-tiba kudengar namaku disebut. Aku dan Gaby, temanku, akan tinggal di dalam keluarga Bapak Gunawan. Majulah kami ke depan untuk bertemu dan bersama-sama berangkat menuju rumah Bapak Gunawan.
            Di awal perjumpaan, aku merasa masih canggung untuk memulai menjalin keakraban. Sangat tampak jelas bagaimana kisah awal pertemuan saya dan bapak bila digambarkan. Tubuh yang cukup mungil, berkulit cokelat kehitaman, berkumis lebat, dan wajah tenang hadir di depan mukaku. Aku tersenyum menyambut keramahannya. Saat berjalan keluar dari kapel, yang terlintas di benakku hanya ‘ayo, kita berjalan kaki ke rumah Bapak’. Namun sebuah benda besar beroda empat, berpintu tiga, berwarna hitam, yang sudah usang dan cukup tua, tanpa kursi di bagian tengah, ada di depanku ketika bapak berhenti melangkah.
Seorang ibu setengah baya dengan pakaian merah muda penuh kembang yang membungkus tubuhnya yang tampak seperti tulang-belulang setengah berlari menghampiri aku dan Gaby. Dengan semangat menyambut kami dan dengan bangga mengatakan kami akan tinggal di rumahnya, serta dengan kerendahan hatinya ia menggambarkan sedikit rumahnya yang sangat sederhana dan sebuah mobil tua milik keluarga besarnya yang ia usahakan untuk menjemput kami. Ia sangat ingin memberikan yang terbaik untuk kami yang belum ia kenal sama sekali. Tidak ingin kami lelah berjalan, ia sengaja mempersiapkan mobil itu untuk menjemput kami. Mobil itu ia alasi dengan tikar agar membuat kami nyaman. Penyambutan yang sangat sempurna menurutku.
Bagaimana dengan aku? Apa yang kupersiapkan untuk bertemu dengan mereka? Tidak ada yang istimewa, hanya raga dan hati yang utuh ini yang kumiliki dan kubawa. Berharap ini dapat membantu dan membuat kalian bahagia selama kami di sini.
Kuletakkan telapak kaki kananku di atas lantai rumahnya yang terbuat dari semen dilapisi bekas poster pemilihan presiden. Poster Presiden Megawati berukuran sangat besar yang dia gunakan sebagai alas rumah. Atap kayu sederhana dilengkapi dengan berbagai celah menutupi tempat tinggalnya. Dinding dari batu bata tanpa cat memperkokoh bangunan sederhana ini. Bapak dan ibu mempersilakan kami masuk dan mengatakan hanya seperti inilah rumah mereka yang dapat dipersembahkan untuk kami. Hanya ini katanya? Menurut saya, ini sudah cukup. Rumah ini sudah terasa nyaman sejak aku memasukinya. Tapi, dari sinilah aku belajar. Aku belajar untuk tidak menjadi seorang sombong. Aku belajar bahwa dengan kesederhanaan saja, kita selalu bisa memberikan sesuatu kepada orang lain. Aku juga belajar bahwa kenyamanan dan kebahagiaan tak selalu tampak indah secara kasat mata tetapi terasa nikmat dan damai di dalam hati, seperti warga desa ini yang menikmati hidup mereka dengan ramah dan damai.
Kulanjutkan petualangan mencari pengalaman beraktivitas dan tinggal di luar batas daerahku, kedamaian dan kebahagiaan di dalam desa, keramah-tamahan di balik senyum warga desa, ketulusan dari hati warga di dekat rumahku di desa, serta kasih sayang dan kehangatan dari orang tuaku, Bapak Gunawan dan Mamak Suly. Petualangan ini terasa sangat menyenangkan tanpa beban. Mandi dengan air dingin, berjalan di atas bebatuan untuk mandi, tidur tanpa AC, berjalan ke mana-mana, makan makanan yang tidak biasa kumakan, dan masih banyak lagi  hal-hal yang hampir tidak pernah kulakukan dan bahkan tidak mau kulakukan, kulakukan di desa Candi Rejo ini tanpa menjadi beban di pikiranku. Parahnya, aku pun lupa kalau aku berada di desa bukan di rumah sendiri.’Kita bisa melakukan apa pun yang kita mau, apabila kita benar mau berusaha dan mencoba. Tidak mengatakan kata ‘tidak bisa’ dan selalu berpikiran positif, serta menikmati apa pun itu yang sedang kita alami’, membuat saya mengetahui dan menyadari bahwa saya BISA melakukan banyak hal yang tidak saya duga saya bisa. Pelajaran ini pula yang kudapat dari live in.
Bersama Bapak Gunawan dan Mamak Suly, aku belajar banyak hal. Mulai dari menimba air di sumur, menaburkan letong (kotoran sapi) di sawah, ngarit (memotong rumput-rumput liar di sekitar sawah), memasak berbagai masakan, dan banyak lainnya. Kegiatan yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Sejujurnya, aku cukup kecewa karena aku tidak bisa belajar menanam padi dan merawat sawah karena kekeringan yang  melanda desa ini. Kekeringan ini membuatku tidak sepenuhnya merasakan kehidupan sebenarnya warga desa ini karena pada saat kekeringan seperti tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan oleh warga desa. Mayoritas berada dan beristirahat di rumah saja, namun ada pula yang mencari pekerjaan sebagai penambang batu untuk mencari nafkah karena persediaan beras yang kian menipis. Namun, warga desa tak pernah menunjukkan kecemasan akan kekurangan beras tersebut. Mereka menikmati kehidupan mereka dan berusaha melakukan apa yang mereka bisa saja. Tidak menunjukkan kekhawatiran pribadi yang dapat menarik perhatian dan membuat orang lain khawatir juga kupelajari di sini.
Hal selanjutnya yang kudapatkan dari desa ini dan terasa hingga merasuk ke dalam diriku adalah keramah-tamahan dan keakraban yang ditawarkan oleh warga desa ini. Dimulai dengan para tetangga yang mengajak kami bertamu ketika kami melalui rumah mereka, sapaan dan senyum manis dari warga yang berpapasan dengan kami di jalan walaupun mereka tidak mengenal kami, serta perbincangan singkat antar warga saat bertemu di pasar. Keramah-tamahan ini bahkan sampai rasa persaudaraan yang begitu kuat hingga dengan warga dari desa lain. Ini kuketahui dari undangan-undangan perkawinan dan berita kematian yang datang dari warga yang tidak hanya sedesa. Rasa pengertian dan belasungkawa antar warga pun terlihat jelas, di mana saat ada yang meninggal sebagian besar warga tidak bekerja untuk menghormati temannya yang sedang berduka cita. Sungguh luar biasa mulia kekeluargaan dan nilai-nilai yang tertanam dalam diri mereka yang juga ditawarkan kepadaku dan kepada setiap orang yang mereka jumpai. Ini semakin membuat diriku malu karena aku yang secara ekonomi dapat dikatakan lebih berkecukupan dan memiliki keadaan yang lebih baik saja tak mengenal tetangga-tetanggaku sendiri dan aku pun sering tidak menyapa teman-temanku sendiri. Peristiwa ini seakan menampar diriku untuk sadar dari kecuekanku. Menjadi akrab dan memiliki hubungan baik dan ramah dengan banyak orang adalah hal yang menyenangkan dan bermanfaat, namun sering tidak kulakukan.
Semangat dan daya juang yang begitu besar tampak jelas dari tubuh cukup mungil bapak dan ibu yang melakukan pekerjaan berat di usia yang sudah berkepala cukup besar. Mengangkat letong berkarung-karung dan berpuluh dirigen berisi penuh air dilakukan sendiri oleh mereka. Padahal berat satu karung letong atau satu dirigen air sangatlah berat. Aku saja tak kuat mengangkatnya walaupun sudah berdua dengan temanku, Gaby. Menimba air hingga berpuluh dirigen dari sumur yang tidaklah dangkal sudah menjadi aktivitas rutin ibu. Tak bisa kubayangkan tubuh ibu yang kecil dan kurus melakukan hal seperti itu. Kekagumanku bertambah saat aku mengetahui bapak dan ibu bekerja di penambangan batu, di mana mereka harus menghancurkan batu-batu yang besar dan keras menjadi batu-batu kecil dan mengangkatnya ke atas truk di bawah terik matahari. Bapak dan ibu sangat bersemangat melakukan semua hal itu, tak pernah sedikit pun mengeluh ataupun menunjukkan kelelahan mereka. Kami yang ingin membantu bapak dan ibu pun tidak diijinkan karena mereka mengatakan bahwa mereka bisa melakukan hal itu sendiri dan tidak ingin membuat kami lelah atau terbebani. Sungguh tidak dapat berkata-kata aku dibuatnya. Semangatnya dalam bekerja dan daya juang melakukan aktivitas-aktivitas mereka sungguh menginspirasiku. Kemandirian yang mereka tawarkan, di mana selagi kita bisa, mengapa harus meminta bantuan orang lain, semakin membangunkanku kembali dari kemalasan dan kemanjaanku selama ini. Kemudian “memberikan yang terbaik” adalah pelajaran yang sangat menyetuh bagiku. Sebenarnya ini adalah motto hidupku namun sepertinya aku belum sepenuhnya seperti itu. Mereka mau memberikan yang terbaik bahkan hal yang berharga bagi mereka, seperti makanan yang banyak dan beragam yang tidak mereka nikmati bila tidak ada kami, serta mobil milik keluarga besar yang dipakai untuk bekerja namun untuk menyambut kami dibersihkan dan dirapikan sedemikian rupa agar kami nyaman, untuk kami yang belum mereka kenal sebelumnya. Memberikan yang terbaik ternyata tidak harus yang menguntungkan kita, tetapi untuk semua orang bisa kita beri. Karena dengan begitu, kita juga bisa merasakan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Siraman air yang sungguh segar dari desa Candi Rejo yang membuka dan menyegarkan mata hati dan pikiranku.
Ini semua membuatku tidak ingin pulang dan berpisah dengan warga desa ini, terutama dengan bapak dan ibu. Aku pun tidak dapat menahan tangisanku. Bahkan saat wakil warga desa baru memulai penutupan, air mataku sudah mengalir deras di wajahku. Tetapi aku tidak malu dan menyesal mengeluarkan air mataku karena pengalaman ini benar-benar berkesan dan berharga yang tidak mudah dilupakan dan ditinggalkan begitu saja. Perpisahan yang begitu cepat dan menyedihkan. Aku pun sesungguhnya tidak dapat menggambarkan perasaanku dengan sangat tepat dan detail selama aku mengalami live in, termasuk saat perpisahan, karena aku tidak tahu cara menjelaskan perasaan ini. Aku rasa mungkin puisi “Jalinan Kenang” di atas dapat lebih melukiskan apa yang kurasakan di sana. Satu yang pasti, aku ingin kembali ke sana karena aku mencintai semua yang ada di Desa Candi Rejo. Ingin kukembali dan memberikan segala sesuatu yang terbaik yang bisa kuberikan untuk mereka. Satu pintaku, biarlah tali persaudaraan ini tidak akan pernah putus untuk selamanya, serta satu doaku untuk mereka, semoga mereka selalu diberkati dan bahagia lahir dan batin selamanya.

Terima kasih, Tuhan, atas segala rahmat karuniaMu. Terima kasih, Santa Ursula BSD, atas kesempatan yang diberikan kepadaku untuk merasakan semua ini. Terima kasih, Bapak Gunawan. Terima kasih, Mamak Suly. Terima kasih, bapak-bapak dan ibu warga desa Candi Rejo. Terima kasih Desa Candi Rejo. Miss you and love you forever.

Angie Michaela Marella
2011
Self-experience in Santa Ursula BSD's Live In

Jalinan Kenang

Hari itu Minggu
Anak-anak mentari menari riang
Melompat semangat ke muka bumi
Diiringi senandung alam

Di balik atap rumah Tuhan kami berhadapan
Baru bersua pertama kalinya
Dan hanya saling melempar senyum
Aku pun tak tahu apa yang harus kuperbuat

Kau menerimaku dengan sepenuh hati
Aku masih tetap berdiri
Ku tahu aku bukan siapa-siapa
Namun mengapa kau mau berbagi denganku?

Rumahmu dari batu bata tanpa warna
Ku tengok ke atas, atapmu dari genting
Bahkan matahari pun bebas masuk tanpa permisi
Kau persilakanku menginjakkan kaki di tempat kau berteduh

Kau berikan segala yang kau miliki
Bahkan harta paling berhargamu
Hanya untuk menyambut dan membahagiakan diriku
Aku yang bukan siapa-siapa

Keadaan ekonomi dan ladang padi yang kau derita
Kau sembunyikan di dalam peniti
Tak ingin aku ketahui
Terlebih hingga aku merasa tak nyaman

Dengan tubuhmu yang mungil dan sudah tua meronta
Kau kerahkan seluruh tenaga untuk kami semua
Tak mau berhenti berusaha selagi darah masih tersisa
Kau berkata dirimu untuk kami semua

Aku dalam duniamu melangkahkan kaki ke depan
Belajar berdiri tegak dalam kehangatan dan kedamaianmu
Kekeluargaan dan keramah-tamahan
Kau tawarkan dari hati terdalammu
Merasuk dalam ke sanubariku

Kita berjalan bersama menembus samudera dan kabut
Tak terasa sudah sangat larut
Jarum detik berlari sangat kencang
Yang tersisa hanya canda tawa dan suka-duka beribu makna

Pada akhirnya kita mesti bercerai
Kita memohon pada malam itu
Belum puas benar serah-menyerah
Biarlah sang surya yang memecah detik ini dengan perisainya

Air mataku mengalir deras
Menggenang di hati terdalamku
Tak sanggup melihat kenyataan hari esok
Terlebih karena aku belum bisa memberikan apa-apa
Ingin aku memberikan apa pun yang kumiliki untukmu pula

Ku tahu kau mengharapkan kehidupan yang cemerlang
Terbebas dari segala badai yang menerpa
Dan hanya melihat emas permatamu
Bersinar menyinari dunia ini
Namun apa daya yang dapat kuperbuat

Aku hanya manusia biasa yang bukan apa-apa
Tapi ada dua hal yang kupunya
Doa tulus kepada Bapa di Surga
Agar kau selalu diberkati dan bahagia
Dan segenap cinta dari lubuk hati terdalamku
Hanya untuk dirimu

Jangan kita berhenti di sini
Meski kadang benda usang dilupa
Jangan biarkan jalinan kenang ini halus merapuh
Ijinkan aku menggenggam erat benang ini
Agar tidak menyelubung nyesak penyesalan


Angie Michaela Marella
2011
Inspired by self-experience 
Santa Ursula BSD's Live In

Sabtu, 18 Mei 2013

Tik

Tik..
Setetes air hujan turun..

Tik..
Tetes air hujan berikutnya..
Turut turun membasahi muka bumi..

Tik..
Lagi-lagi tetes air hujan..
Menyentuh membasahi muka bumi..
Di saat permukaan tadi belum kering..

Tik..
Tetes hujan ternyata tidak berhenti..
Terus membasahi muka bumi yang telah basah..
Permukaan bumi semakin basah..
Tetes demi tetes menggunung meluap dan banjir..

Demikian pula lah..
Yang seringkali terjadi dalam hidup ini..
Rintangan, cobaan, dan masalah..
Datang seakan satu bersatu..
Namun bertubi-tubi..
Tanpa penyelesaian singkat..

Belum terselesaikan yang satu..
Datang yang berikutnya..
Begitu seterusnya..
Hingga mencapai batas puncaknya..
Mencapai batas di mana..
Semua itu seakan menjadi gunung karang..
Gunung karang yang tak terpecahkan..

Angie Michaela Marella

Rabu, 10 April 2013

Perahu Kertas

Perahu kertas
Perahu kertas akan mengalir
Mengikuti aliran sungai nan tenang
Membawa cintaku
Membawa mimpi-mimpi indahku
Membawa impian-impian akan kita
Menuju ke pelabuhannya
Sebab dia tahu ke arah mana harus berlabuh

Angie Michaela Marella
Inspired by 'Perahu Kertas' and 'Perahu Kertas 2'

Sabtu, 23 Maret 2013

Rasa Ini

Tidak tahu..
Aku tidak tahu
Aku benar-benar tidak tahu
Mengapa aku mencintaimu

Aku pun tak tahu..
Bagaimana awalnya aku mencintaimu
Dan apa yang membuatku cinta padamu
Rasanya sekejap saja rasa ini muncul

Yang kutahu..
Aku mencintaimu..
Dengan segenap hatiku..

Meskipun kutahu..
Bahwa kau banyak yang suka
Bahwa kau terlalu sempurna untukku
Bahwa kau terlalu indah untuk kumiliki
Tapi aku akan tetap mencintaimu
Meski dari kejauhan

Rasaku ini..
Mungkin tak pantas untukmu
Tapi aku akan tetap menyimpan rasa ini
Dalam hatiku dan dalam diamku
Biarkan hanya aku yang tahu rasa ini
Asal kau selalu bahagia dengan siapapun pilihanmu

Angie Michaela Marella

Kamis, 21 Maret 2013

Butiran Debu

Aku
Kamu
Cinta

Aku
Tanpa
Kamu

Hampa
Sunyi
Kosong

Butiran Debu

Angie Michaela Marella