“Anak-anak,
ayo bangun! Kita sudah hampir sampai di kelor. Periksa barang bawaan kalian
masing-masing!” Ucap ibu guru menyadarkanku dari alam mimpi. Kulihat kedua
jarum di tanganku. Masih pukul 6 pagi kurang. Kugerak-gerakkan seluruh anggota
tubuhku satu per satu. Satu per satu pun berbunyi seakan mengatakan betapa
pegal badanku setelah sehari semalam tidur duduk di kursi bus. Matahari mulai
memancarkan sinarnya melalui jendela yang tertutup oleh tirai. Kulihat teman di
sisi kanan-kiriku yang masih setengah sadar. Mereka tampak sangat nyenyak
semalaman, sementara aku hampir tidak bisa tidur karena dingin dan takut akan
jatuh.
Kumulai
dengan menyapa teman-temanku di awal pagi ini. Tak sabar rasanya dapat melihat
keadaan desa, rumah, keluarga, dan aktivitas yang akan kujalani selama 4 hari
ke depan. Rasa penat dan lelahku seakan
terangkat dari raga ini. Kuraih benda berwarna hitam bergaris merah muda yang
tidak lain adalah tas punggungku dari bagasi dengan semangat. Kami semua
melangkah pasti menuju hall kelor,
mendengarkan pengarahan, membersihkan diri, dan menyantap sarapan ayam goreng
yang sangat khas daerah Gunung Kidul.
Awal live in segera dimulai dengan naiknya kami satu per satu ke atas
truk pasir yang siap mengantar kami ke desa-desa. Angin sepoi-sepoi sangat
terasa di telinga dan pipiku. Sinar matahari menyilaukan mataku.
Keramah-tamahan dan senyum manis dari orang-orang desa yang kami temui membawa
kedamaian dan kehangatan tersendiri bagi diriku. Rumah-rumah berbalok yang
berdiri cukup kokoh memberikan ketenangan tersendiri dalam batin. Kebersamaan
bersama teman-teman berdiri di atas truk menciptakan keceriaan dan mengukir
pengalaman berkesan di awal petualanganku.
Kapel. Ya, kapel sederhana bercat
putih berukuran sedang menjadi tempat di mana segala sesuatu yang baru terjadi
di sini. Di sebuah ruangan cukup besar, kulihat bapak-bapak dan ibu-ibu yang
asing dalam diriku, sebagian besar sudah berumur. Mereka tersenyum ramah
melihat kedatangan kami. Ada kehangatan tersendiri yang ditawarkan oleh mereka
yang tidak mengenali kami, mungkin ini justru pertemuan kami yang pertama.
Sungguh aku merasa sangat tidak adil pada mereka. Keramah-tamahan mereka,
kusambut dengan wajah dan hati yang masih setengah sadar dan pikiran khawatir
akan keadaan ini itu. Hidup yang sudah begitu keras dan tidak adil bukan aku
perjuangkan agar lebih baik, tetapi justru kutambah derita mereka dengan
perlakuan awalku yang seperti ini. Aku semakin tidak mengerti ketika kutatap
lagi wajah mereka, tidak sedikit pun ada rasa kecewa, tidak senang, ataupun
duka yang terpancar dari raut wajah mereka. Hanya keramah-tamahan, sukacita,
kehangatan, kedamaian, dan kebahagiaan yang mereka lemparkan kepada kami. Hati
ini benar-benar mendapatkan air segar yang membuka kesadaran akan kehidupan
desa yang begitu tentram. Tidak heran aku bila banyak orang ingin menenangkan
diri ke desa atau tempat terpencil.
“Selamat datang, anak-anak dan ibu
guru pendamping dari SMA Santa Ursula BSD. Selamat datang di Desa Candi Rejo.
Kita berkumpul di kapel ini untuk bersama-sama….,” sambut seorang bapak wakil
dari desa tersebut. Bahasa Indonesia yang dipadukan dengan Bahasa Jawa membuat
suasana pedesaan kian terasa. Sambutan luar biasa yang pada intinya sangat
senang dengan kedatangan kami dan akan bersama-sama belajar berbagai hal selama
4 hari di desa ini. Awal perjumpaaan yang istimewa, sangat istimewa. Masih berada
dalam pesona penerimaan warga desa yang begitu tulus, tiba-tiba kudengar namaku
disebut. Aku dan Gaby, temanku, akan tinggal di dalam keluarga Bapak Gunawan.
Majulah kami ke depan untuk bertemu dan bersama-sama berangkat menuju rumah
Bapak Gunawan.
Di awal perjumpaan, aku merasa masih
canggung untuk memulai menjalin keakraban. Sangat tampak jelas bagaimana kisah
awal pertemuan saya dan bapak bila digambarkan. Tubuh yang cukup mungil,
berkulit cokelat kehitaman, berkumis lebat, dan wajah tenang hadir di depan
mukaku. Aku tersenyum menyambut keramahannya. Saat berjalan keluar dari kapel,
yang terlintas di benakku hanya ‘ayo, kita berjalan kaki ke rumah Bapak’. Namun
sebuah benda besar beroda empat, berpintu tiga, berwarna hitam, yang sudah
usang dan cukup tua, tanpa kursi di bagian tengah, ada di depanku ketika bapak
berhenti melangkah.
Seorang
ibu setengah baya dengan pakaian merah muda penuh kembang yang membungkus
tubuhnya yang tampak seperti tulang-belulang setengah berlari menghampiri aku
dan Gaby. Dengan semangat menyambut kami dan dengan bangga mengatakan kami akan
tinggal di rumahnya, serta dengan kerendahan hatinya ia menggambarkan sedikit
rumahnya yang sangat sederhana dan sebuah mobil tua milik keluarga besarnya
yang ia usahakan untuk menjemput kami. Ia sangat ingin memberikan yang terbaik
untuk kami yang belum ia kenal sama sekali. Tidak ingin kami lelah berjalan, ia
sengaja mempersiapkan mobil itu untuk menjemput kami. Mobil itu ia alasi dengan
tikar agar membuat kami nyaman. Penyambutan yang sangat sempurna menurutku.
Bagaimana
dengan aku? Apa yang kupersiapkan untuk bertemu dengan mereka? Tidak ada yang
istimewa, hanya raga dan hati yang utuh ini yang kumiliki dan kubawa. Berharap
ini dapat membantu dan membuat kalian bahagia selama kami di sini.
Kuletakkan
telapak kaki kananku di atas lantai rumahnya yang terbuat dari semen dilapisi
bekas poster pemilihan presiden. Poster Presiden Megawati berukuran sangat
besar yang dia gunakan sebagai alas rumah. Atap kayu sederhana dilengkapi
dengan berbagai celah menutupi tempat tinggalnya. Dinding dari batu bata tanpa
cat memperkokoh bangunan sederhana ini. Bapak dan ibu mempersilakan kami masuk
dan mengatakan hanya seperti inilah rumah mereka yang dapat dipersembahkan
untuk kami. Hanya ini katanya? Menurut saya, ini sudah cukup. Rumah ini sudah
terasa nyaman sejak aku memasukinya. Tapi, dari sinilah aku belajar. Aku
belajar untuk tidak menjadi seorang sombong. Aku belajar bahwa dengan
kesederhanaan saja, kita selalu bisa memberikan sesuatu kepada orang lain. Aku
juga belajar bahwa kenyamanan dan kebahagiaan tak selalu tampak indah secara
kasat mata tetapi terasa nikmat dan damai di dalam hati, seperti warga desa ini
yang menikmati hidup mereka dengan ramah dan damai.
Kulanjutkan
petualangan mencari pengalaman beraktivitas dan tinggal di luar batas daerahku,
kedamaian dan kebahagiaan di dalam desa, keramah-tamahan di balik senyum warga
desa, ketulusan dari hati warga di dekat rumahku di desa, serta kasih sayang
dan kehangatan dari orang tuaku, Bapak Gunawan dan Mamak Suly. Petualangan ini
terasa sangat menyenangkan tanpa beban. Mandi dengan air dingin, berjalan di
atas bebatuan untuk mandi, tidur tanpa AC, berjalan ke mana-mana, makan makanan
yang tidak biasa kumakan, dan masih banyak lagi
hal-hal yang hampir tidak pernah kulakukan dan bahkan tidak mau
kulakukan, kulakukan di desa Candi Rejo ini tanpa menjadi beban di pikiranku.
Parahnya, aku pun lupa kalau aku berada di desa bukan di rumah sendiri.’Kita
bisa melakukan apa pun yang kita mau, apabila kita benar mau berusaha dan
mencoba. Tidak mengatakan kata ‘tidak bisa’ dan selalu berpikiran positif,
serta menikmati apa pun itu yang sedang kita alami’, membuat saya mengetahui
dan menyadari bahwa saya BISA melakukan banyak hal yang tidak saya duga saya
bisa. Pelajaran ini pula yang kudapat dari live
in.
Bersama
Bapak Gunawan dan Mamak Suly, aku belajar banyak hal. Mulai dari menimba air di
sumur, menaburkan letong (kotoran
sapi) di sawah, ngarit (memotong
rumput-rumput liar di sekitar sawah), memasak berbagai masakan, dan banyak
lainnya. Kegiatan yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Sejujurnya, aku cukup
kecewa karena aku tidak bisa belajar menanam padi dan merawat sawah karena
kekeringan yang melanda desa ini.
Kekeringan ini membuatku tidak sepenuhnya merasakan kehidupan sebenarnya warga
desa ini karena pada saat kekeringan seperti tidak banyak kegiatan yang dapat
dilakukan oleh warga desa. Mayoritas berada dan beristirahat di rumah saja,
namun ada pula yang mencari pekerjaan sebagai penambang batu untuk mencari
nafkah karena persediaan beras yang kian menipis. Namun, warga desa tak pernah
menunjukkan kecemasan akan kekurangan beras tersebut. Mereka menikmati
kehidupan mereka dan berusaha melakukan apa yang mereka bisa saja. Tidak
menunjukkan kekhawatiran pribadi yang dapat menarik perhatian dan membuat orang
lain khawatir juga kupelajari di sini.
Hal
selanjutnya yang kudapatkan dari desa ini dan terasa hingga merasuk ke dalam
diriku adalah keramah-tamahan dan keakraban yang ditawarkan oleh warga desa
ini. Dimulai dengan para tetangga yang mengajak kami bertamu ketika kami
melalui rumah mereka, sapaan dan senyum manis dari warga yang berpapasan dengan
kami di jalan walaupun mereka tidak mengenal kami, serta perbincangan singkat
antar warga saat bertemu di pasar. Keramah-tamahan ini bahkan sampai rasa
persaudaraan yang begitu kuat hingga dengan warga dari desa lain. Ini kuketahui
dari undangan-undangan perkawinan dan berita kematian yang datang dari warga
yang tidak hanya sedesa. Rasa pengertian dan belasungkawa antar warga pun
terlihat jelas, di mana saat ada yang meninggal sebagian besar warga tidak
bekerja untuk menghormati temannya yang sedang berduka cita. Sungguh luar biasa
mulia kekeluargaan dan nilai-nilai yang tertanam dalam diri mereka yang juga
ditawarkan kepadaku dan kepada setiap orang yang mereka jumpai. Ini semakin
membuat diriku malu karena aku yang secara ekonomi dapat dikatakan lebih
berkecukupan dan memiliki keadaan yang lebih baik saja tak mengenal
tetangga-tetanggaku sendiri dan aku pun sering tidak menyapa teman-temanku sendiri.
Peristiwa ini seakan menampar diriku untuk sadar dari kecuekanku. Menjadi akrab
dan memiliki hubungan baik dan ramah dengan banyak orang adalah hal yang
menyenangkan dan bermanfaat, namun sering tidak kulakukan.
Semangat
dan daya juang yang begitu besar tampak jelas dari tubuh cukup mungil bapak dan
ibu yang melakukan pekerjaan berat di usia yang sudah berkepala cukup besar.
Mengangkat letong berkarung-karung dan berpuluh dirigen berisi penuh air
dilakukan sendiri oleh mereka. Padahal berat satu karung letong atau satu
dirigen air sangatlah berat. Aku saja tak kuat mengangkatnya walaupun sudah
berdua dengan temanku, Gaby. Menimba air hingga berpuluh dirigen dari sumur
yang tidaklah dangkal sudah menjadi aktivitas rutin ibu. Tak bisa kubayangkan
tubuh ibu yang kecil dan kurus melakukan hal seperti itu. Kekagumanku bertambah
saat aku mengetahui bapak dan ibu bekerja di penambangan batu, di mana mereka
harus menghancurkan batu-batu yang besar dan keras menjadi batu-batu kecil dan
mengangkatnya ke atas truk di bawah terik matahari. Bapak dan ibu sangat
bersemangat melakukan semua hal itu, tak pernah sedikit pun mengeluh ataupun
menunjukkan kelelahan mereka. Kami yang ingin membantu bapak dan ibu pun tidak
diijinkan karena mereka mengatakan bahwa mereka bisa melakukan hal itu sendiri
dan tidak ingin membuat kami lelah atau terbebani. Sungguh tidak dapat
berkata-kata aku dibuatnya. Semangatnya dalam bekerja dan daya juang melakukan
aktivitas-aktivitas mereka sungguh menginspirasiku. Kemandirian yang mereka tawarkan,
di mana selagi kita bisa, mengapa harus meminta bantuan orang lain, semakin
membangunkanku kembali dari kemalasan dan kemanjaanku selama ini. Kemudian
“memberikan yang terbaik” adalah pelajaran yang sangat menyetuh bagiku.
Sebenarnya ini adalah motto hidupku namun sepertinya aku belum sepenuhnya
seperti itu. Mereka mau memberikan yang terbaik bahkan hal yang berharga bagi
mereka, seperti makanan yang banyak dan beragam yang tidak mereka nikmati bila
tidak ada kami, serta mobil milik keluarga besar yang dipakai untuk bekerja
namun untuk menyambut kami dibersihkan dan dirapikan sedemikian rupa agar kami
nyaman, untuk kami yang belum mereka kenal sebelumnya. Memberikan yang terbaik
ternyata tidak harus yang menguntungkan kita, tetapi untuk semua orang bisa
kita beri. Karena dengan begitu, kita juga bisa merasakan kebahagiaan dan kepuasan
tersendiri. Siraman air yang sungguh segar dari desa Candi Rejo yang membuka
dan menyegarkan mata hati dan pikiranku.
Ini
semua membuatku tidak ingin pulang dan berpisah dengan warga desa ini, terutama
dengan bapak dan ibu. Aku pun tidak dapat menahan tangisanku. Bahkan saat wakil
warga desa baru memulai penutupan, air mataku sudah mengalir deras di wajahku.
Tetapi aku tidak malu dan menyesal mengeluarkan air mataku karena pengalaman
ini benar-benar berkesan dan berharga yang tidak mudah dilupakan dan
ditinggalkan begitu saja. Perpisahan yang begitu cepat dan menyedihkan. Aku pun
sesungguhnya tidak dapat menggambarkan perasaanku dengan sangat tepat dan
detail selama aku mengalami live in,
termasuk saat perpisahan, karena aku tidak tahu cara menjelaskan perasaan ini.
Aku rasa mungkin puisi “Jalinan Kenang” di atas dapat lebih melukiskan apa yang
kurasakan di sana. Satu yang pasti, aku ingin kembali ke sana karena aku mencintai
semua yang ada di Desa Candi Rejo. Ingin kukembali dan memberikan segala
sesuatu yang terbaik yang bisa kuberikan untuk mereka. Satu pintaku, biarlah
tali persaudaraan ini tidak akan pernah putus untuk selamanya, serta satu doaku
untuk mereka, semoga mereka selalu diberkati dan bahagia lahir dan batin
selamanya.
Terima
kasih, Tuhan, atas segala rahmat karuniaMu. Terima kasih, Santa Ursula BSD,
atas kesempatan yang diberikan kepadaku untuk merasakan semua ini. Terima
kasih, Bapak Gunawan. Terima kasih, Mamak Suly. Terima kasih, bapak-bapak dan
ibu warga desa Candi Rejo. Terima kasih Desa Candi Rejo. Miss you and love you forever.
Angie Michaela Marella
2011
Self-experience in Santa Ursula BSD's Live In
Tidak ada komentar:
Posting Komentar