Rabu, 29 Mei 2013

Kuserahkan Hidupku

Sang surya  bersinar terang. Cahyanya merasuk ke dalam ruangan kamarku yang gelap melalui celah-celah tirai jendela kamarku yang kusam penuh debu. Mataku pun terdorong untuk segera terbuka. Dengan langkah pasti, kulangkahkan kaki menuju ke kuningnya tirai jendela yang dengan lembut kubuka. Langit nan indah dan biru membuka awal hariku. Burung-burung berkicau menyapaku. Kutersenyum menatap indahnya bukit di sebelah rumahku.  Hari ini kuawali dengan senyum termanisku yang keluar dari lubuk hatiku yang terdalam. Tak lupa kupejamkan sejenak kedua indera penglihatanku ini tuk mengucap syukur pada Allah SWT  atas perlindunganNya sepanjang malam dan awal hari ini.
            Tiba-tiba terdengar suara gelas pecah. Segera kuayunkan kedua kakiku menuju sumber suara itu. Namun, langkahku terhenti seketika. Kedua mataku yang bulat berwarna coklat kehitaman ini terpaku pada seorang wanita setengah baya yang tergeletak lemah tak berdaya di atas dinginnya dan kasarnya lantai rumahku.  Di ujung tangannya, terlihat pecahan sebuah gelas kecil. Aku terdiam tanpa kata sesaat. Baru setelah beberapa saat kemudian aku tersadar dari keterkejutanku melihat keadaan itu. Bergegas kubantu wanita berambut putih itu naik ke atas dipan. “Bu, kenapa toh? Ibu kambuh meneh? Bukannya kemaren wes sembuh?” Tanyaku cemas sembari menahan air mataku yang hampir terjatuh. Kupegang tangan wanita yang telah menginjak usia berkepala lima tersebut. Tangannya kasar dan berkeringat dingin. Kudengar napasnya yang terputus-putus diiringi suaranya yang merintih kesakitan. Tak kuat diriku melihat kondisi wanita berbaju merah kembang itu yang tak lain adalah ibu kandungku tercinta.
            Tanpa melewati waktu sedetik pun , aku segera mencari obat di laci kayu yang sudah tak kokoh termakan usia. Mataku terpencar ke seluruh sisi laci demi menemukan obat asma ibuku, Ibu Marina, secepat mungkin. Tak sia-sia, belum mencapai dua menit, kutemukan obat itu di sudut laci kecil itu. Namun, botol itu sudah sangat ringan. Isinya pun hanya tersisa dua butir saja. Pikiranku semakin kacau tak terkendali. Akan tetapi, mengingat keadaan wanita yang telah melahirkanku terbaring di atas kerasnya papan tidur, aku tak membuang waktu. Kuarahkan kakiku menuju bilik kecil di mana ibuku berada. Entah apa yang membuat tanganku bergerak cepat memasukkan sebutir tablet berwarna putih ke dalam mulut ibuku yang kecil. Tak lupa kuberikan segelas air hangat kepada ibuku. Wanita berkulit gelap itu pun kembali terbaring.
            Mengetahui aku harus melakukan banyak hal, kaki dan tanganku langsung bekerja sama dengan kompak tanpa kenal lelah membersihkan rumah kayuku yang mungil. Tak butuh waktu lebih dari 60 menit, rumah tuaku telah bersih kembali. Aku tidak membiarkan kaki dan tanganku yang sangat kurus bagaikan tulang dilapisi sehelai kain tipis ini berhenti untuk beristirahat. Kuajak keduanya bekerja dengan pakaian-pakaian yang sudah kusam, kumal, dan berlubang di mana-mana. Setelahnya, tangan berkulit gelapku pun segera menjemur pakaian yang telah harum di bawah teriknya matahari pagi. Barisan pakaian yang basah pun tergantung di atas seutas tali tipis yang diikat pada dua batang pohon mangga besar yang ditanam dan dirawat dengan sepenuh hati oleh almarhun ayahku.
            Kulanjutkan gerakan langkah kakiku yang telah mulai letih menuju sebuah bilik di belakang rumah. Kubuka lemari makanan yang pintunya telah patah sebelah. Hanya sebutir telur, dua buah cabai rawit, dan segenggam beras yang mengisi lemari tua itu. Otakku langsung berputar cepat. Apa yang bisa kumasak untuk ibuku? Terdengar alarm dalam perutku berbunyi tanpa henti. Aku duduk termenung beberapa saat di pojok bilik. Hingga akhirnya, aku putuskan untuk membuat nasi goreng seadanya. Nasi goreng ini pasti lezat rasanya walau tidak dimasak dengan bumbu yang lengkap.  Bagaimana bisa? Mungkin itu pertanyaan yang timbul di benak kalian. Tentu saja karena kubuat dengan sepenuh hatiku. Harumnya nasi goreng ini membuat perutku semakin keroncongan. Tetapi, tak kuhiraukan teriakan perutku ini. Yang terpenting adalah ibuku. Nasi ini hanya untuk ibuku seorang.
            “Bu, iki tak aku bawain nasi buat ibu. Dimakan ya! Sini tak aku suapin ya.” “Aturnuhun, Ros,” jawabnya dengan suara lemah. Kusuapkan sesendok demi sesendok sambil menahan gairahku yang juga ingin menikmatinya. Setelah butir nasi terakhir masuk ke dalam mulut ibu, kutinggalkan ibuku beristirahat.
Kulihat jam di dinding. “Jam wolu? Aku bisa telat iki,” teriakku terkejut. Mendengar teriakkanku, ibu memanggilku dan bertanya, “Ada opo toh, Ros? Wes telat? “ “Ndak, Bu. Aku ndak sadar aja wes jam wolu. Ya wes, aku ke pasar sek ya. Assalamualaikum,”jawabku menenangkan.  “Ya wes, hati-hati ya! Walaikumsalam,” ucapnya dengan logat Jawa-nya yang khas. 
            Dengan kaos putih lusu dan rok hitam kembangku, aku berjalan dengan semangat menuju ke pasar. Sepanjang jalan, aku menyapa orang-orang yang yang kutemui dengan senyum. Aku tak mau orang lain tahu aku sedang dalam masalah dan kepanikkan. Sesampainya di pasar, seperti biasa, aku mendatangi Ibu Iyem, penjual tahu dan tempe langgananku. Wanita berkerudung biru dan berpakaian serba tertutup itu sedang sibuk melayani pembeli dengan sangat ramah. Tak heran pelanggannya banyak. Ia selalu menjual dagangannya dengan jujur dan sopan. Barang dagangannya pun bersih dan berkualitas. Namun, karena tak banyak waktu, segera kuhampiri wanita asal Solo itu. “Pagi, Bu,” sapaku dengan sopan. “Oh, kamu, Ros. Sebentar ya!” Ia pun segera membungkus 25 buah tahu dan tempe untukku. “Aturnuhun,“ jawabku sopan.
            Selanjutnya, masih ada satu tempat lagi yang harus kudatangi. Penjual singkong langganan ibuku, Pak Suwarman. Pria berkulit sawo matang dan telah berkeriput ini biasa berdagang di pojok pasar.  Kuhampiri pria pemilik wajah cuek ini. “Pagi, Pak. Singkong ne songo,” ucapku ramah. Seperti biasa dengan wajah cuek dan galak, ia memberikan sekantong plastik hitam penuh dengan singkong. Kemudian aku pun segera menuju rumah.
            Dengan penuh semangat kubuat keripik singkong serta tahu dan tempe goreng yang kemudian dengan rapi kubungkus dalam plastik-plastik. Kini aku siap menjajakan daganganku demi mendapatkan uang untuk makan dan obat ibuku. Bersama sandal jepit merah kesayanganku, kutelusuri jalan kampung, gang demi gang. “Keripik..Tahu..Tempe..” Teriakku tanpa henti. Tiga jam berlalu, tahu dan tempeku masih banyak. Tak kuhiraukan lagi panasnya matahari. Tak kuhiraukan lagi keringnya tenggorokanku. Tak kuhiraukan lagi basahnya tubuhku oleh keringat. Aku tetap berjalan menjajakan daganganku. Hingga seorang nenek tua menghentikan langkahku. “Nak, tempe dan tahunya dua ya. Berapa jadinya?” “Empat ribu, Nek,” jawabku ramah. “Kok mahal, Nak? Nenek cuma punya 2000 saja. Cucu nenek belum makan dua hari,” ucap nenek itu memelas penuh harap padaku. Tak sanggup aku melihat mata nenek itu yang menatapku penuh harap. Aku ingat akan keadaanku yang juga sedang butuh makanan untuk ibuku. Aku pun ikhlas menjual daganganku dengan setengah harga pada nenek itu. Betapa senang hatiku melihat nenek itu dengan sangat senang berterima kasih padaku. Aku pun melanjutkan perjalananku. Tepat pukul satu siang, daganganku akhirnya laku terjual.
            Kududuk di bukit sejenak untuk beristirahat. Kudengar suara ramai anak-anak sekolah yang baru saja pulang sekolah. Tak lama kemudian, beberapa anak berpakaian putih biru melintas di depanku. Tak terbendung lagi air mataku. Aku ingin kembali sekolah. Di usiaku yang menginjak tiga belas tahun, seharusnya aku duduk di bangku 1 SMP. Namun, lulus sekolah dasar pun aku tidak. Aku putus sekolah saat kududuk di bangku 3 SD. Saat itu, ayahku jatuh sakit parah dan akhirnya tak tertolong. Sejak saat itu, aku dan ibu tinggal berdua di rumah. Bahu membahu mencari nafkah. Kami selalu berjuang bersama demi hidup kami. Walau hidup berkekurangan, namun aku tetap bahagia karena ibuku sangat menyayangiku. Ibuku adalah guruku, temanku, sahabatku, segalanya untukku. Kepergiaan ayah tak boleh dijadikan alasan untuk bersedih setiap hari, tetapi harus dijadikan semangat. Begitu pesan ibuku. Saat ayah ada, ayah selalu berjuang keras mencari nafkah untuk kami dengan menjadi kuli pasir di pagi hari, memerah sapi tetangga setiap siang dan sore, mengantar susu sapi ke toko-toko di siang hari, dan menjadi tukang ojek di malam hari. Beliau tak pernah mengeluh, bahkan beliaulah yang setiap hari membakar api semangat kami untuk terus berjuang menghadapi hidup. Kuambil selembar foto yang yang sudah menguning. Kupandangi foto almarhum ayahku. Kupandangi rambutnya yang hitam gondrong. Kulihat badannya yang kurus dan telah keriput. Kutersenyum saat kulihat senyum bibirnya dan matanya yang menatapku dengan penuh sayang.
            Lamunanku akan ayahku buyar seketika saat kuteringat akan ibuku yang belum juga makan siang. Bergegas aku membeli sebungkus nasi untuk ibuku. Kulangkahkan kaki dengan kecepatan tinggi untuk tiba di rumah secepatnya. Kuberikan nasi itu kepada ibuku yang telah dengan sabar menanti kedatanganku. “Kamu ndak makan?” “Ndak. Ibu saja. Nanti uang makanku buat beli obat ibu saja. Aku ndak lapar kok,” jawabku menenagkan ibu.
            Seusai memastikan ibu menghabiskan makanannya, aku bergegas ke peternakan milik Juragan Sulaiman. Dengan menahan rasa lapar yang hampir tak terkendali lagi, aku tetap berusaha dengan sabar dan lembut, memerah susu sapi-sapi Juragan Sulaiman. Dua jam pun berlalu. Aku telah mengumpulkan 24 botol penuh susu sapi. Akan tetapi, masih ada tiga ekor sapi lagi yang belum kuperah susunya.  Aku berusaha menyelesaikan tugasku. Dengan penuh perjuangan, aku berhasil memerah kelimabelas ekor sapi. Aku segera melaporkan hasil kerjaku pada Juragan Sulaiman yang tengah duduk santai di teras rumah sambil membaca koran. Dengan tampangnya yang galak, ia hanya mengangguk. Alis dan kumisnya yang tebal semakin membuat tampangnya tampak sangar. Namun, sebenarnya Juragan Sulaiman adalah sosok yang baik hati dan dermawan. Buktinya, Juragan Sulaiman mau membantu membiayai setengah biaya pengobatan almarhum ayahku saat almarhum ayahku kritis.
            Tak membuang waktu, aku pun segera melesat ke toko-toko langganan susu sapi Juragan Sulaiman. Meski tubuhku sudah tak bertenaga lagi dan keringat telah bercucuran di seluruh tubuhku, aku tetap bersemangat mengantar botol-botol susu hasil perahanku ke lima belas toko yang tersebar di berbagai penjuru arah dari peternakan Juragan Sulaiman. Aku tetap menunjukkan keceriaan wajahku seperti seakan-akan aku tidak lelah sama sekali, walau sebenarnya tubuhku ini hampir roboh. Satu per satu toko kudatangi dan kuantarkan dua botol susu setiap toko. Para penjual toko terlihat kagum padaku dan mengikuti semangatku tuk berusaha dan bekerja keras. Aku senang dapat dijadikan teladan baik.
            Waktu menunjukkan pukul 5 sore, semua botol susu telah kuantarkan. Kakiku pun berjalan kembali ke peternakan Juragan Sulaiman. Juragan telah menanti kedatanganku di depan pagar rumahnya yang berwarna coklat kayu. Melihat kedatanganku, ia tersenyum mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Aku disuguhkan segelas teh manis hangat dan sepotong roti. Rasanya seperti mendapat berkat dari Allah SWT atas kerja kerasku.  Aku sangat bersyukur pada Allah dan berterima kasih pada Juragan Sulaiman. Juragan menceritakan kekagumannya padaku yang bagaikan Wonder Woman. Bekerja dari pagi hingga malam tanpa kenal lelah. Aku tersenyum senang mendengar pujian itu.
            Saat mendengar adzan Magrib dikumandangkan, aku berpamitan dengan Juragan Sulaiman. Tak tahu mengapa, langkah kakiku menjadi sangat ringan dan cepat menuju rumah kayuku tercinta. Sesampai di rumah, aku menjenguk ibuku yang ternyata masih terlelap di atas papan tidur. Aku pun bergegas membersihkan tubuh dan melakukan sholat Magrib. Kupusatkan pikiranku dan hatiku dalam syukur dan doaku.
Ya, Allah
Terima kasih kuucapkan tak terhingga padaMu
Atas pernyertaanMu sepanjang hari ini
Aku berhasil melalui hari ini dengan senyum di wajahku
Ya, Allah
Sembuhkanlah ibuku tercinta
Jangan biarkan ia merasa kesakitan
Ya, Allah
Berilah kekuatan pada ibuku agar ia dapat segera sehat kembali
Aku sangat menyayanginya
Aku tak ingin ia terbaring lemah di atas papan tidur
Bila boleh dan bisa,
Biarlah aku yang menderita sakit
Ibu telah berusaha keras selama ini untuk melahirkan dan membesarkanku
Ya, Allah
Tak lupa pula kumohon padaMu
Berilah berkat dan anugerahMu pada setiap ciptaanMu
Agar mereka dapat melewati hari-hariMu
Berilah kekuatan pada kami semua
Tuk dapat terus berjuang hidup
            Tak terasa air mataku terjatuh. Dan tanpa kusadari pula, ibuku telah berada di belakangku dengan bergelinang air mata. Keberadaan ibu baru kusadari saat terdengar suara batuk ibu. Ibu hanya tersenyum padaku. Aku pun membalas senyuman manisnya dan segera memeluknya. Ibu telah cukup pulih, namun tampaknya belum dapat banyak bergerak. Ibu membelai rambut hitamku yang panjangnya telah mencapai pinggangku. Ibu memanjakanku sesaat hingga aku tersadar bahwa aku lupa membeli makan malam dan obat ibu.
            Dengan langkah seribu langkah, kutembus dinginnya malam menuju ke toko obat yang terletak 15 km dari rumahku. Untung saja, aku belum terlambat. Toko obat itu hampir saja tutup. Segera kubeli obat untuk ibu. Kemudian, aku pun kembali melangkahkan kaki mnyusuri gelapnya malam menuju ke Warteg Lezat yang berada di jalan kecil yang akan kulalui untuk tiba di rumah. Namun, di perjalanan, hidung  pesekku ini mencium suatu bau tak sedap. Kucari asal bau itu. Hingga akhirnya kutemukan sumber bau itu yang tak lain adalah tempat sampah. Akan tetapi, mataku terpanah pada seorang kakek tua yang berpakaian compang-camping dengan sebuah topi tua yang menutupi rambut putihnya. Kakek itu duduk tak berdaya di samping tempat sampah itu. Matanya yang sayu, mukanya yang pucat, bibirnya yang kering, dan tubuhnya yang layu membuatku amat sangat tidak tega meninggalkannya tanpa membantunya. Aku tahu kakek itu pasti belum makan dan  minum selama lebih dari dua hari. Aku ingin membantunya, tetapi bagaimana caranya? Bila kuberikan uangku, kakek itu pun mungkin tak cukup kuat untuk berjalan membeli makanan. Akhirnya kuputuskan membelikannya makanan.
            Di Warteg Lezat, aku ingin membeli tiga bungkus nasi dan segelas air putih. Namun, apa daya uangku tak cukup. Tanpa pikir panjang, aku pun memutuskan untuk hanya membeli dua bungkus nasi dan segelas air putih saja. Dengan membeli makanan itu saja, uangku kini habis tak tersisa sepersen pun. Aku segera kembali ke tempat kakek berusia lanjut itu. Kuberikan sebungkus nasi dan segelas air putih padanya. Kakek itu sangat berterima kasih padaku. Dengan senang hati aku berpamitan pada kakek itu dan kembali meneruskan perjalanan pulangku.
            Sesampai di rumah, ibu terkejut melihatku pulang hanya bersama sebungkus nasi. Dengan tenang dan santai, aku mengajak ibu untuk berbincang di dalam rumah saja. Kemudian, kuceritakan apa yang terjadi dan apa yang kulakukan. Ibuku bangga sekali padaku dan ia pun mengajakku untuk makan nasi sebungkus berdua saja. Aku pun setuju dan menikmati nasi bungkus itu sebungkus berdua. Walau hanya sedikit, tetapi tetap terasa nikmat.
Keesokan paginya, ibuku telah kuat bekerja kembali. Kami membersihkan rumah bersama. Kami senang melakukannya bersama-sama karena terasa sangat menyenangkan. Setelah selesai, kami pun bergegas menuju tempat di mana kami dapat memperoleh barang dagangan kami. Ibu berjalan dengan gemulai menuju pasar untuk mendapatkan tahu, tempe, dan singkong. Sedangkan aku kembali pada pekerjaanku sehari-hari sebagai loper koran. Aku mengunjungi penerbit satu demi satu untuk  mendapatkan koran dan tabloid yang baru terbit.
Kemudian aku berkeliling kampung dengan sebuah sepeda tua milik tetanggaku, Yanto. Kujual koran dan tabloid yang kubawa dengan semangat dan ramah hingga laku terjual semua. Namun, seperti kebiasaanku. Aku sering membaca koran-koran dan tabloid yang kujual untuk menambah wawasanku. Sehingga meski aku tak bersekolah, aku tetap tahu berita-berita terkini. Dari koran Tempo, koran kesukaanku, aku memperoleh banyak sekali wawasan, baik bidang politik, ekonomi, kriminalitas, budaya, teknologi, dll.
            Pada siang hari, koranku telah laku terjual. Kemudian aku bergegas menuju rumah Juragan Sulaiman dan bekerja di peternakannya.  Inilah yang setiap hari kulakukan. Ini semua bagaikan kebiasaan hidupku sehari-hari. Hingga suatu saat di mana ada isu bahwa tahu yang dijual sering menggunakan formalin, penyawet mayat, sebagai pengawet tahu yang berbahaya bagi tubuh. Tahu yang dijual ibuku mulai tidak laku. Penjualan pun menurun drastis. Ditambah dengan sapi-sapi Juragan Sulaiman yang terkena virus mematikan sehingga tak dapat diambil lagi susunya. Bagaimana aku dan ibuku dapat bertahan hidup? Apa yang harus kami lakukan?
            Kaki menjadi kepala dan kepala pun menjadi kaki. Apa pun yang masih dapat kami kerjakan, kami kerjakan, selama itu semua masih halal dan benar. Walau aku dan ibuku ini adalah kaum hawa, kami tak malu dan ragu untuk menjadi kuli angkut di pasar  dan bongkar muat pasar. Karena semangat dan tekad kami, pekerjaan itu dapat kami kerjakan. Tubuhku seakan mendapat tenaga dan kekuatan yang lebih dari biasanya untuk mengangkat beban-beban berat itu. Walau tulang terasa mau patah, kami tidak mengeluh dan tetap berusaha. Kami pun dapat bertahan hidup dengan kerja keras kami menjadi kuli angkut.
            Akan tetapi, nasib mujur belum sepenuhnya berpihak padaku dan ibuku. Memang kami masih dapat mendapatkan uang untuk makan setiap hari walau uang yang kami dapat sangat pas-pas-an. Namun, pada suatu pagi, kudengar suara ibu memanggilku. “Rosa...Rosa...Ro...sa...,” panggil ibu dengan suara terputus-putus. Segera kuhampiri ibuku. Di bilik tidurnya yang sudah penuh dengan lubang di atapnya, wanita berpakaian daster kuning kembang itu sedang terbaring di atas papan tidurnya. Terlihat usahanya untuk bangkit berdiri, namun apa daya ia tak mampu. Terdengar jelas napasnya terengah-engah. Wajahnya sudah sangat pucat. Aku pun tahu bahwa penyakit sesak napas yang dihidap ibu sejak delapan tahun yang lalu ini kambuh lagi. Segera kucoba untuk membantu ibu bangkit. Kupegang tangannya yang berkeringat dingin. Namun, ibu pun masih tak mampu bangkit. Pikiranku kacau tak tahu harus berbuat apa. Hati sedih seperti teriris-iris melihat keadaan ibu.
            Dengan sigap, kuambilkan botol obat ibu. Kuberikan sebutir tablet putih ke dalam mulut ibu dan kuberikan segelas air putih hangat. Lalu kucium kening ibuku yang sudah keriput dan kutinggalkan ia beristirahat.
            Aku pun segera pergi mencari uang untuk biaya pengobatan ibu. Kulakukan semua pekerjaan yang dapat kulakukan dengan semangat agar hasilnya pun maksimal. Seusai menyelesaikan tugasku sebagai loper koran dan kuli angkut di pasar, aku segera pulang. Dengan segenggam uang kecil hasil jerih payahku, kuharap cukup untuk biaya pengobatan ibu. Matahari bersinar sangat terang menemani langkah kakiku menuju rumah.
            Sesampai di rumah, aku langsung menghampiri ibu di biliknya. Terlihat sekali keadaannya semakin parah. Aku merasa bahwa ibu harus dibawa ke rumah sakit segera. Tanpa pikir panjang, kumemanggil temanku, Jaipul, untuk membantuku membawa ibu ke rumah sakit. Dengan senang hati, laki-laki berambut cepak berkulit gelap itu pun membantuku. Di balik tubuhnya yang kecil, tenaganya sangat besar. Setelah menempuh jarak 30 km, kami pun tiba. Tanpa pikir panjang, aku langsung membawa ibuku menuju ruangan dokter dan meminta pertolongan terbaik darinya untuk ibuku. Dr. Anton pun dengan sigap memeriksa ibuku. Sepuluh menit kumenunggu. Dr. Anton muncul dari balik pintu ruang kerjanya. “Rosa, silakan masuk!” Panggilnya. Aku pun segera masuk. “Bagaimana, Dok? Ibuku baik-baik saja kan?” Tanyaku cemas. “Ros, sepertinya ibumu harus dirawat inap beberapa hari dulu di sini. Kalau tidak kondisinya bisa semakin parah,” jawabnya dengan ramah. “Tapi, biayanya?” Tanyaku spontan. “Saya tahu. Kamu tenang saja ya. Saya akan membantu membiayai ibumu. Saya juga pernah dibantu orang lain saat saya tidak mampu dahulu. Biarlah sekarang aku membalasnya melalui ibumu,” ucapnya penuh senyum menenangkanku. Aku tersenyum senang, “Terima kasih banyak, Dok. Semoga Allah membalas kebaikan Dokter.”
            Aku pun kemudian pamit pada dokter untuk pulang sejenak menyelesaikan pekerjaanku. Sepanjang perjalanan aku tersenyum tak hentinya. Langkah kakiku sangat ringan. Kubernyanyi di sepanjang perjalananku menuju rumah diiringi suara kicau buruh, arus aliran sungai, dan keramaian orang beraktivitas. Langkah kakiku tiba-tiba berhenti. Seorang nenek tua berkerudung merah berjalan ke arah yang berlawanan denganku. Langkah kakinya sudah sangat lambat. Tak tega hati, kuhampiri nenek itu. “Nek, mau ke mana?” Nenek itu diam tanpa kata. Sesaat kemudian, ia menjawab dengan suara yang sangat pelan, “Entahlah, Nak. Nenek bingung. Dadaku terasa sangat sakit. Namun, aku tak punya biaya.” “Mari kuantarkan ke rumah sakit. Mungkin uang yang kumiliki ini cukup untuk biaya berobat nenek,” ajakku spontan. Kuantarkan nenek tua itu ke rumah sakit.
            Sesampai di rumah sakit, kuantarkan nenek itu ke ruang praktek dr. Anton. Dr. Anton tampak sangat bingung melihat kedatanganku kembali. Kuceritakan apa yang terjadi padanya dan kumemintanya untuk memeriksa nenek berambut putih berpakaian daster merah yang telah dekil itu. Dr. Anton tersenyum bangga padaku. Setengah jam kumenunggu di depan ruang praktek. Dr. Anton keluar dari ruangannya bersama dengan wanita setengah baya yang kuduga usianya berkisar 50-60 tahun. Dr. Anton memberikan sebungkus kapsul berwarna merah putih padaku dan mengatakan bahwa nenek itu terlalu letih, sehingga tubuhnya sangat lemah. Kuberikan seluruh uang yang kupunya sebagai tebusan atas biaya pemeriksaan dan obat wanita bermuka bulat kecil itu. Setelahnya, kuantarkan wanita pemilik mata bulat besar dan hidung mancung itu ke rumahnya. Tercermin dari raut wajahnya bahwa ia amat sangat berterima kasih padaku. “Nak, aturnuhun ya,” ucap bibirnya yang berwarna merah tua dengan nada halus dan sopan.
            Aku pun segera mohon diri dan bergegas ke peternakan Juragan Sulaiman. Tanpa membuang waktu, aku menyelesaikan pekerjaanku sebaik dan secepat mungkin. Tak terasa aku telah menghabiskan dua jam untuk menyelesaikan semua pekerjaanku. Seusai pekerjaanku selesai, aku segera membersihkan diri dan sholat. Walau banyak cobaan datang menghadangku, aku tak pernah putus asa dan aku pun tak lupa tuk bersyukur padaNya.
            Langit berwarna merah kekuningan. Sang Surya sudah menuju ke barat untuk beristirahat. Burung-burung berterbangan kembali ke sarangnya dengan kicau merdu mereka. Aku pun segera mengayunkan kaki menuju ke gedung putih besar yang berada di perbatasan Kampung Makmur dan Kampung Maju, kampung halamanku tercinta. Meski jarak yang kutempuh tidak dapat dikatakan dekat, aku tetap merasa bahwa jarak itu dapat kutempuh dengan cepat.
            Brrrmm….Brrrmmm…. Terdengar suara sebuah sepeda motor yang sedang mengebut dari kejauhan. Dan tanpa sengaja kulihat seorang bocah gundul berusia sekitar enam tahun sedang menyebrang jalan raya dengan santainya. Spontan aku berteriak, “ Ade, awas! Ada motor.” Namun, dia tak mendengar teriakanku. Aku berlari dengan kecepatan tercepatku untuk menyelamatkan bocah berbaju upin ipin itu. Aku tak memikirkan apa pun selain menolong bocah polos itu. Dan….
            Perlahan kurasakan tubuhku berada di atas sebuah kasur yang empuk. Kubuka mataku pelan-pelan. Yang dapat kulihat hanyalah dinding putih dan sebuah pintu. Namun, itu semua masih kabur di penglihatanku. Kepalaku terasa sangat sakit. Tak lama kemudian, tercium bau sesuatu yang tak asing lagi bagiku. Ya, benar ini adalah bau obat-obatan di rumah sakit. Aku kemudian sadar bahwa aku berada di rumah sakit. Tiba-tiba, terlintas di kepalaku bocah berkulit kuning itu. Aku langsung duduk dan berusaha untuk bangkit. Namun..
            “Aah, kenapa aku iki? Kenapa aku ndak iso berdiri?” Tanyaku pada diriku dengan penuh kebingungan. Mendengar suaraku, seorang perawat masuk ke ruanganku dan membantuku. Perempuan berpakaian seragam serba putih itu, tersenyum melihatku dan menjelaskan bahwa  kakiku patah akibat tertabrak sepeda motor. Aku sangat terkejut. Namun, sekali lagi di benakku muncul kekhawatiran akan bocah itu. Kutanyakan kepada perawat itu akan keadaan bocah bertubuh kecil yang ingin kuselamatkan tadi. Perawat itu bingung mendengar pertanyaanku, “Kok kamu malah bertanya akan bocah itu? Tak kah kau pikirkan dirimu dulu? Anak itu selamat tanpa luka sedikit pun. Ia telah diantarkan pulang.” Jawaban itu sangat menenangkan hatiku. Aku hanya tersenyum bahagia dan menarik napas lega.
            Keesokan harinya, aku telah diijinkan kembali ke rumah. Namun, aku memutuskan untuk menjenguk dan menemani ibuku terlebih dahulu. Ruang tempat ibuku dirawat ternyata terletak tepat di sebelah ruanganku. Namun, ketika aku akan masuk ke ruangan ibuku, dr.Anton memanggilku dan mengajakku ke ruangannya. Bersama kedua tongkat di sisiku, aku berjalan ke ruangan dr. Anton.
            “Ros, bagaimana kakimu?” Tanyanya membuka percapakapan.
            “Sudah baik. Ada apa aku dipanggil, Dok?”
            “Ros, ada kabar kurang baik tentang ibumu,” ucapnya dengan raut wajah penuh iba.
            “Apa itu?” Tanyaku mulai panik.
            “Ibumu ternyata juga terkena gagal ginjal. Dia membutuhkan donor ginjal secepatnya. Kalau tidak, nyawanya akan terancam.”
            Aku hanya terdiam panik. Aku tak tahu harus berbuat apa. Kekhawatiranku akan ibu terus menghantui pikiranku. Detik demi detik berlalu, menit demi menit pun berlalu. “Ros, kamu kenapa?” Pertanyaan Dokter Anton membangunkanku dari lamunanku. Kupikirkan matang-matang keputusan yang akan aku ambil, kemudian aku menjawab pertanyaan Dokter Anton dengan tenang, “Dok, pakai saja ginjalku untuk didonorkan kepada ibuku.” Dokter Anton tampak terkejut mendengar jawabanku. “Yang benar kamu, Ros?” “Ya, aku serius, Dok. Aku punya dua ginjal, dengan memberikan satu ginjalku untuk ibu, tidak akan terjadi apa-apa padaku dan justru aku telah menyelamatkan nyawa ibuku. Benar kan, Dok? Tapi, tolong jangan katakan pada ibu, siapa yang mendonorkan ginjal untuknya, Dok,” jawabku meyakinkan sembari sedikit memelas. Dokter Anton tersenyum mengangguk dan memberikan surat pernyataan untuk aku baca baik-baik dan tanda tangani. Dengan cermat, aku membaca surat itu dan menanda tanganinya dengan tersenyum.
            Segera setelah aku menyerahkan kembali surat pernyataan yang telah aku tanda tangani, aku dibawa masuk ke ruang operasi untuk dilakukan operasi pencangkokan. Aku tak sadarkan diri selama lebih kurang empat jam, hingga akhirnya pengaruh obat bius yang diberikan padaku habis. Aku mencoba membuka mataku, pandanganku tampak agak kabur dan badanku terasa amat lemas dan berat untuk digerakkan. Tiba-tiba Dokter Anton masuk ke ruanganku, beliau tersenyum melihatku telah sadarkan diri dan mendekatiku. “Rosa, baguslah kamu sudah sadarkan diri. Ada kabar baik dan buruk untukmu. Kabar baiknya adalah operasi pendonoran ginjal untuk ibumu berhasil dilakukan dan kondisinya telah membaik. Namun, ada yang perlu kamu ketahui tentang kondisimu saat ini. Saat ini tubuhmulah yang menjadi masalah. Paska operasi tadi, tubuhmu seakan-akan memberikan perlawanan terhadap tubuhmu sendiri. Sel-sel darah putih dalam tubuhmu berkembang pesat dan memberikan perlawanan terhadap tubuhmu dan hal ini sangat berbahaya bagi keselamatanmu. Untuk sementara kamu juga harus di-opname dan semoga saja ini dapat mengembalikan kondisimu. Namun, tidak ada jaminan pasti untuk hal ini dan apabila cara ini tidak berhasil, berarti sisa hidupmu hanya beberapa hari saja karena perlawanan yang terjadi dalam tubuhmu sangat kuat. Maafkan saya harus mengatakan hal ini,” ucap Dokter Anton dengan wajah penuh penyesalan.
            Jujur saja aku terdiam seribu kata mendengar ucapan Dokter Anton. Pikiranku melayang tak tahu ke mana. Hingga tiba-tiba, terdengar suara pintu diketuk dan seorang perawat datang dengan tergesa-gesa menghampiri dr.Anton. “Dok, gawat. Pasien di kamar 15 membutuhkan donor jantung secepatnya. Jantungnya hampir tak berfungsi,” ucapnya panik. Belum keluar perawat yang satu, datang perawat lainnya yang  juga dengan wajah cemas menghampiri dr. Anton. “Dok, baru saja ada seorang ibu muda yang keadaannya sudah kritis karena terkena kanker paru-paru. Donor paru-paru dibutuhkan segera,” ucapnya terburu-buru.
            Kepanikan kedua perawat itu menambah kacau pikiranku. Aku membayangkan nasib kedua pasien yang nyawanya terancam seperti ibuku tadi dan diriku saat ini. Apa yang harus kulakukan? Aku merenung dan kemudian terlintas sebuah jalan keluar terbaik. Segera kuambil secarik kertas dan sebuah pena. Kutuliskan suatu pesan untuk ibuku.
Bu, makasih banyak. Ibu adalah perempuan perkasa dan terhebat dalam hidupku. Ibu telah berjuang melahirkan dan membesarkanku. Banyak waktu telah kita habiskan berdua. Kita telah berjuang bersama. Ibu tlah menyayangiku sepenuh hati. Kasih saying ibu yang begitu hebatnya yang tak kudapat dari siapa pun. Bu, cepatlah sembuh. Aku tak tahan melihat ibu terus kesakitan. Ibu, terus berjuang ya. Ingat pesan ayah kalau kita harus terus berusaha tanpa putus asa. Maafkan aku tak dapat terus menemani ibu berjuang. Tetapi, ingatlah aku akan selalu bersama ibu di mana pun ibu berada. Anggaplah nyanyian merdu burung-burung di pagi hari sebagai pengganti suara sapaku setiap pagi. Terima kasih, Bu.
Salam kasih sayang tak terhingga,
Rosa

            Tak terasa air mataku menetes. Kuusap air mataku dan segera kulipat rapi kertas itu. Aku meminta tolong kepada perawat yang masuk ke ruanganku untuk memanggil Dokter Anton. Kukatakan pada Dokter Anton bahwa apabila aku tak dapat lagi bertahan hidup, aku ingin mendonorkan organ-organ tubuhku untuk pasien-pasien yang membutuhkan donor tersebut dan kepada siapa saja yang membutuhkan. Kemudian kutitipkan surat yang telah kutulis untuk ibuku kepada Dokter Anton untuk diberikan kepada ibuku apabila aku harus menghembuskan napas terakhirku. Setekah itu, dengan sangat yakin, kutandatangani sebuah surat pernyataan. Dr. Anton melihatku penuh haru hingga ia pun meneteskan air mata.
            Malam harinya, aku meminta tolong lagi kepada seorang perawat yang masuk ke ruanganku untuk mengantarkanku ke tempat ibuku sejenak. Kutatap wajahnya dan kucium kening ibuku tercinta. Ibu masih tertidur dengan sebuah senyum kecil yang terlukis di wajahnya. Kemudian aku kembali ke kamarku untuk beristirahat karena tubuhku terasa semakin lemas dan berat, serta pandanganku semakin gelap. Dan ternyata inilah napas terakhirku.

            Napas terakhirku kuserahkan pada semua orang, terlebih mereka yang membutuhkan bantuan. Mungkin kalian bertanya mengapa aku rela menyerahkan hidupku untuk orang lain. Aku, Rosa, adalah seorang anak yang dalam 13 tahun kehidupannya telah banyak mendapatkan uluran tangan orang lain. Paru-paru yang berfungsi di dalam tubuhku ini sebenarnya bukanlah paru-paruku, melainkan paru-paru seorang anak berusia 14 tahun yang telah meninggal dunia akibat gagal ginjal. Ayahku dapat bertahan dua tahun lebih lama dari prediksi dokter akibat uluran tangan banyak orang yang membantu biaya pengobatan dan donor hati untuk ayahku. Kini mungkin tiba saatnya aku dapat membalas semua uluran tangan orang lain dengan kembali mengulurkan tanganku untuk orang lain. Dan satu hal yang terpenting, walau ragaku tak dapat abadi, namun jiwaku tetap abadi. Jiwaku kuserahkan pada semua orang. Aku akan tetap hidup dalam tubuh ibuku melalui ginjalku. Aku akan tetap hidup dalam tubuh kedua pasien kritis itu melalui paru-paru dan jantungku. Darahku mengalir dalam tubuh banyak orang yang kekurangan darah. Mataku tetap terbuka untuk melihat indahnya dunia melalui mata seorang anak kecil yang juga membutuhkan donor mata. Seluruh hidupku kuserahkan untuk semua orang yang kukasihi. Hidupku telah kuberikan untuk hidup begitu banyak orang. Aku tetap bahagia dalam kehidupanku yang abadi ini bersama impianku yang abadi dengan memberikan hidupku untuk orang lain.

Angie Michaela Marella
September 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar