Rabu, 11 Desember 2013

Segenggam Berlian Warisan Tanah Air

Dewan Pimpinan Ranting. Sebuah papan berwarna putih tertempel pada sebuah dinding berwarna hijau.Sebuah papan yang menunjukkan bahwa rumah yang kami datangi pada hari Rabu, 12 Juni 2013, tepatnya sekitar pukul 09.30 WIB, tidak salah. Rumah beralamat Jalan Cimandiri II nomor 70, Depok Timur, milik seorang veteran era TimorTimur, memang menjadi tujuan kami hari itu.
Berangkat dari sebuah niat untuk mendengar warisan sejarah berupa cerita perjuangan dan hidup seorang veteran pejuang bangsa, kami langkahkan kaki menuju rumah Bapak Marsudi dan Ibu Sumiatun.Kehadiran kami disambut dengan sangat ramah oleh Ibu Sumiatun, istri Bapak Marsudi.Bapak Marsudi telah menunggu di ruang tamu dengan pakaian rapi khas veteran mariner berwarna biru tua.Terlihat sekali persiapan Bapak dan Ibu Marsudi untuk menyambut kedatangan kami.


Berbeda. Sungguh berbeda. Apa yang menjadi ekspektasi awal kami akan sosok Bapak Marsudi sangat berbeda dengan sosok yang berdiri di hadapan kami saat itu. Sosok seorang pria berukuran tidak besar dengan wajah ceria dan penuh semangat sangat berbeda dengan ekspektasi awal kami.Bapak Marsudi yang hadir di hadapan kami jauh lebih muda dari usianya yang telah menginjak 69 tahun.
Usai memberi salam kepada Bapak dan Ibu Marsudi, kami dipersilakan duduk di sofa berwarna hijau milik mereka. Percakapan dimulai dengan kata sambutan dari Bapak Marsudi yang sangat bahagia menerima kunjungan, terlebih kunjungan dari mahasiswi generasi muda yang masih peduli dengan veteran seperti dirinya.Dalam kata sambutannya, terlihat sekali Bapak Marsudi merupakan orang yang rendah hati. Beliau menyebut rumah tempat tinggalnya yang sebenarnya nyaman dan sudah bagus dengan istilah gubuk kecil. Beliau mengatakan bahwa yang beliau miliki dan butuhkan hanyalah hati yang bersih. Saran-saran yang beliau terima dari sekitarlah yang memperkaya beliau sebagai pegangan untuk melangkah ke depan. Sulit dipercaya seorang veteran yang mungkin banyak dari anak muda sudah memanggilnya kakek atau opa seperti beliau yang juga tidak berpendidikan tinggi ini dapat berkata-kata sedemikian rapi, lancar, serta indah tutur bahasanyasehingga dapat menyentuh hati setiap pendengarnya.
Pria kelahiran tahun 1944 ini kemudian mulai mengisahkan perjuangannya dalam perang untuk menguasai Timor Timur. Ayah dari empat orang putra dan seorang putri ini mendapat tugas ke Timor Timur dua kali, yakni pada tahun 1975 dan 1978. Bapak Marsudi berada di Timor Timur dalam masa tugasnya selama 2 tahun 4 bulan.Bahkan saat masa tugasnya ke Timor Timur yang kedua, Ibu Sumiatun sedang mengandung 5 bulan buah hati kelima mereka yang sekaligus menjadi putri tunggal mereka. Saat kembali dari masa tugasnya, Dian Anggraini yang berarti pelita terang di antara keempat kakak laki-lakinya dan bagaikan bunga anggrek kesukaan ayahnya telah menginjak usia 4 bulan.
Beliau mendapat tugas ke Timor Timur untuk beradaptasi atauberintegrasi dengan rakyat Timor Timur yang negaranya sedang kacau saat itu.Kemudian bergabung dengan rakyat Timor Timur untuk melawan musuh mereka yang menamakan diri Pretelin yang sebenarnya juga merupakan rakyat Timor Timur. Berbagai partai dan warga kota bersatu padu melawan Pretelin. Itulah yang terjadi saat itu di tahun 1975-1978 di Timor Timur.
Berangkat dari Home Base  di asrama Cilandak menuju ke konlilamil yang merupakan tempat embarkasi ke kapal. Kemudian berangkat menggunakan kapal besar yang membawa sekitar 700 personil berbekalkan senjata M-16 (senjata panjang dari Amerika) dan AKA (dari Rusia) dari Jakarta. Di tengah perjalanan, mereka pindah kapal menuju kapal LST dengan cara turun jaring menggunakan tambang. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Timor Timur selama lebih kurang seminggu.Kendaraan yang mereka bawa ialah tank dan pansam.Sekitar pukul 00.00, Bapak Marsudi bertugas menjadi pemandu dan diinstruksikan untuk masuk ke dalam tank menuju Betano, terletak di Timor Timur bagian selatan, yang menjadi sasaran peperangan.Sekitar pukul 04.00 pagi, tank sudah siap dilepas dari kapal LST untuk diterjunkan ke laut.Satu tank memuat 3 orang, yakni TNI, pengemudi, dan pembantunya. Pekerjaan di dalam tank saat diterjunkan sangat berbahaya karena harus segera menutup pintunya atau air akanmasuk dan tank akan tenggelam. Saat sudah akan sampai, mereka turun ke laut yang lebih kurang tingginya sepinggang. Di saat itu pula, pesawat-pesawat sudah mulai mengarahkan dan menembakkan peluru menuju sasaran.Demikian pula yang terjadi dengan kapal-kapal yang juga melesatkan peluru.Peluru tidak pernah berhenti bahkan hanya untuk sedetik.Para pejuang Indonesia tersebut harus tidur dan bersembunyi di tempat-tempat yang gelap agar tidak terlihat musuh, seperti dalam hutan dan makam. Namun dengan cara demikian pun  mereka tak dapat beristirahat dengan tenang karena musuh mereka memiliki akal licik untuk mengganggu istirahat mereka dengan mengalungkan kaleng pada anjing-anjing dan kuda-kuda yang kemudian dibiarkan lepas berlarian ke daerah persembunyian dan peristirahatan mereka agar menimbulkan suara gaduh. Uniknya, keadaan perang yang sedemikian tidak dikatakan sebagai perang oleh Bapak Marsudi.Beliau menyebut situasi tersebut dengan menganggap seperti sedang bermain bulu tangkis.Karena bagi beliau pemain bulu tangkis harus dapat mengalahkan lawannya bukan membunuh karena kematian adalah kehendak Tuhan. Situasi perang yang menegangkan tersebut dijalani dengan senang hati. Dalam prinsipnya, apabila sesuatu dijalani dengan senang hati pasti akan membawa kebahagiaan yang menjadi tujuan hidup setiap manusia.
Cerita seru dari Bapak Marsudi terpotong dengan selingan masakan mie goreng dan aneka kue beserta sirup yang disuguhkan oleh Ibu Sumiatun, wanita yang saat itu berkerudung merah muda.Sejak awal wanita setengah baya yang berusia 63 tahun tersebut telah menawarkan dan membujuk kami agar makan terebih dahulu sebelum berbincang.Beliau khusus memasakan kami mie untuk makan karena tidak menyediakan nasi untuk makan siang.Beliau bahkan meminta ijin untuk tidak menghadiri acara organisasi yang diikutinya hanya untuk menemani kami dan menghargai kunjungan kami.Ibu Sumiatun sangat aktif dalam berbagai organisasi. Beliau menjadi sekretaris Piveri (Persatuan Isteri Veteran) cabang Depok dan ketua Persatuan Isteri Purnawirawan Marinir, serta aktif dalam Gerakan Organisasi Wanita (GOW) dan Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI). Menurut sepasang suami istri tersebut, kunci agar tetap sehat di usia mereka yang sudah lanjut adalah banyak bergaul dan beraktivitas.
Usai bersantai ria sambil menikmati hidangan yang berlimpah tersebut, Bapak Marsudi melanjutkan ceritanya. Beliau menceritakan bahwa setelah menguasai daratan Bentano yang berjarak 100 meter dari Pantai Pusang, seharusnya tugas telah selesai.Namun, mereka diinstruksikan untuk melanjutkan perjalanan merebut Kota Same.Pengejaran dilakukan bahkan di dalam hutan dan melalui gunung dengan menggunakan pansam, tank, dan truk tempur. Dalam perjalanan ke Kota Same, ada gangguan dari Pretelin yang mundur melarikan diri sembari menembakkan peluru. Jumlah Pretelin pun lebih banyak daripada mereka dan persenjataan mereka yang jauh lebih lengkap.Pihak Pretelin terdiri dari sebagian besar orang ber-IQ tinggi dan menggunakan strategi sekali tembak langsung lari.Kendala yang juga mereka hadapi adalah pihak Pretelin yang merupakan rakyat Timor Timur tersebut yang tidak berbeda dengan rakyat biasa, sehingga sulit dibedakan.Mereka hanya makan singkong dan tidak menggunakan sepatu.Liciknya Pretelin ialah mereka mengirim peninjau dan pengintai untuk menjemput masyarakat sekitar yang dikuasai Pretelin di malam hari untuk dijadikan sebagai tameng Pretelin, selain binatang-binatang.Perjalanan mereka selalu dikejar oleh tank dan pansam diiringi suara tembakan peluru. Penduduk di sana sangat terancam.Bapak Marsudi senang dengan pengalaman yang beliau miliki tersebut.
Seusai menjalankan tugas di Timor Timur, pria kelahiran Solo tersebut kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kembali menjadi marinir yang telah dijalaninya sejak beliau berusia 22 tahun.Beliau sempat ingin mengikuti pendidikan pelatikan ke Aljazair, namun karena ada satu dan lain hal, keinginannya tersebut tidak tercapai.Namun, Bapak Marsudi yang memilih menjadi TNI karena ingin menjadi kebanggaan keluarga tersebut tetap bersyukur dan bahagia menjalaninya.Putra dari seorang guru besar tersebut pensiun pada tahun 1991.
Anak bungsu dari 2 bersaudara ini juga sempat menjadi pengawal kehormatan Bung Karno selama 6 tahun.Beliau sangat menghormati dan mencintai Bung Karno.Hal ini tampak jelas melalui sebuah anyaman bergambar foto Bung Karno dalam ukuran besar yang terbingkai rapi tergantung dalam ruang tamu rumahnya.Beliau bahkan menangis saat ada yang ingin merebut kekuasaan Bung Karno karena dianggap PKI.Beliau yang juga sempat dilempari batu karena dianggap PKI sangat menyayangkan pengambilan keputusan dan penggeneralisasian yang tidak matang dan salah tersebut.
Bapak Marsudi yang juga merupakan mantan pemain sepak bola nasional tersebut merupakan Ketua Veteran Kecamatan Sukmajaya berdasarkan surat keputusan SKB057/DPC/XII/2008 yang berlaku selama 5 tahun hingga Desember 2013. Hingga saat ini, beliau menyesalkan belum sempat mengadakan muscab atau musyawarah cabang.Beliau juga menjabat sebagai Sekretaris Piveri Kota Depok.
Bapak Marsudi, pria yang ditinggal oleh ayahnya karena ditangkap pada jaman penjajahan sejak beliau berusia 3 bulan, mengakui dirinya adalah seorang idealis yang tanpa pamrih. Alhasil ketika ditanya fasilitas apa yang diberikan pemerintah kepada mereka sebagai para veteran, beliau tidak ingin berkata banyak. Bagi Bapak Marsudi, semua yang beliau ceritakan dan katakan dapat dan harus beliau pertanggung jawabkan kepada presiden dan negara. Bagi mereka apapun yang diberikan sudah layak dan sepantasnya disyukuri saja, meskipun mereka hanya mendapatkan gaji pensiun sebesar Rp 250.000,00 setiap bulannya.Pemberian gaji tersebut mengalami kemajuan saat masa pemerintahan Megawati, di mana terdapat 13 gaji dalam setahun.Untuk tunjangan kesehatan pun dipotong setiap bulannya.Fasilitas rumah pun tidak disediakan karena hanya diberikan kepada keluarga veteran yang ditinggalkan apabila veteran tersebut meninggal dunia atau veteran tersebut mengalami cacat.Namun, beliau tetap bersyukur masih dapat tinggal di Indonesia berterima kasih kepada proyek pembangunan Alm.Bapak Soeharto yang telah menyediakan perumahan nasional, tempat yang beliau tinggali saat ini walaupun harus membayar atau membeli.Beliau mengatakan sebenarnya yang mereka butuhkan adalah dukungan sosial dan perhatian. Secara umum, apabila beliau ditanyakan bagaimana perhatian pemerintah terhadap para veteran, beliau akan menjawab baik, namun sejujurnya perhatian pemerintah tersebut masih sangat minim. Ibarat kata motor tanpa bensin yang tidak akan dapat berfungsi. Untungnya, beliau masih didukung dan mendapatkan perhatian dari anak-anaknya yang telah menikah semua dan menghadiahkan 11 orang cucu. Bantuan ekonomi dan perhatian dari anak-anaknya yang telah sukses bekerja sangat membantu beliau dan istri, Salah satu putranya, yakni putra ketiga mereka, bahkan sempat bekerja di Madagaskar selama 3,5 tahun. Hal ini menjadi kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi beliau. Dukungan sosial dan perhatian diperoleh dari lingkungan sekitar, organisasi-organisasi yang mereka ikuti, dan masyarakat-masyarakat yang masih memperhatikan mereka
Bapak Marsudi prihatin dengan situasi negeri saat ini, di mana pejabat-pejabat justru korupsi.Menurut beliau, para koruptor tersebut tampak tidak memberikan teladan yang baik.Seharusnya pemerintah dapat menjadi teladan bagi rakyatnya.Pemerintah saat ini tidak mengayomi rakyat, tetapi menghancurkan generasi penerus dan mengakibatkan pengangguran di mana-mana.Sebagai contoh, minyak.Minyak mentah berasal dari kita, namun mengapa diolah di luar negeri?Seharusnya dapat diolah oleh rakyat dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat. Contoh lainnya adalah kasus Eyang Subur yang tidak baik namun diberitakan berkali-kali dalam jangka waktu yang cukup lama, seharusnya berita yang memberikan teladan baik yang lebih diekspose, bukan memberitakan atau membesar-besarkan berita keburukan dari Indonesia ke kaca mata dunia.
            Menurut Bapak Marsudi, generasi muda jaman sekarang tidak sesuai dengan harapan beliau. Generasi muda saat ini tidak dapat menciptakan daya cipta pribadi padahal generasi muda adalah tumpuan dan harapan negara.Mayoritas generasi muda hanya ikut-ikutan atau meniru saja.Kalau ditanya yang sebenarnya mereka tidak tahu dan tidak bisa.Mayoritas dapat berbicara suatu hal, namun tidak lama kemudian sudah lupa.Salah satu contoh buktinya adalah demo.Hanya bermodalkan ikut-ikutan atau dibayar Rp 30.000,00, banyak generasi muda yang ikut berdemo tanpa tahu tujuan dan akar permasalahannya.Beliau memiliki sejumlah harapan dan pesan kepada generasi muda saat ini.Beliau berharap semangat generasi muda saat ini harus melebihi semangat beliau yang sudah tua saat ini dan semangatnya dulu saat masih muda.Generasi muda harus memiliki jangkauan yang luas dan pikiran yang lebih maju mengikuti perkembangan jaman dan teknologi yang semakin canggih.Generasi muda harus memiliki pendirian yang kuat dan kepercayaan diri untuk melangkah dengan pasti, tidak hanya mendengar. Beliau menekankan berulang kali bahwa kita tidak boleh mengubah pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 karena merupakan bekal bagi generasi penerus bangsa yang harus dipahami dengan seksama, bukan hanya dihapalkan. Beliau juga berpesan agar kita jangan terlalu mudah menyalahkan orang lain, melainkan koreksi dan introspeksi diri terlebih dahulu. Saling menghormati dan menghargai juga merupakan dua hal yang sangat penting dipraktekan oleh generasi muda saat ini.Kita harus menghargai orang lain terlebih dahulu apabila ingin dihargai. Bapak Marsudi yang pernah menjadi ketua RW tersebut mengatakan bahwa saling menghargai dapat dilakukan dengan misalnya menghargai umat beragama lain. Beliau memberikan contoh nyata yang beliau praktekan, yakni beliau sebagai seorang Muslim, tetap datang dan menghargai acara natalan yang diselenggarakan di RW yang beliau pimpin. Menurut beliau, pergaulan juga jangan dibatasi.Kita harus bergaul dengan banyak orang tanpa pandang bulu.Dalam menyampaikan pesan tersebut, Bapak Marsudi menunjukkan sisi humoris dari dirinya yang berpesan bahwa memiliki pasangan juga banyak saja, tetapi yang menjadi pasangan atau pendamping hidup pada akhirnya hanya satu.
            Ada pula pesan tersirat yang beliau sampaikan dalam cerita-cerita dan jawaban-jawabannya.Kita harus selalu bahagia dengan mensyukuri apapun yang terjadi dan menjalani apapun yang terjadi dengan senang hati. Menurut beliau, bahagia penting karena bisa memperpanjang usia. Nikmati saja hidup yang ada dan perluas pergaulan.
            Perbincangan ditutup dengan obrolan singkat yang diawali dengan sebuah pertanyaan yang beliau lontarkan kepada kami, “ Mengapa kalian memilih jurusan psikologi?” Beliau memiliki tuduhan bahwa anak muda seringkali memutuskan sesuatu tidak terprogram atau direncanakan dengan baik dan matang sejak dahulu.Akibatnya, pilihan tersebut dapat goyah dan kurang kuat. Pilihan jurusan pendidikan merupakan mata dan telinga untuk melangkah ke depan yang berarti termasuk otak di dalamnya. Rutinitas berpikir harus selalu dilakukan karena pikiran manusia kompleks dan selalu berkembang pula, sehingga pikiran harus diadaptasi sesuai perkembangan jaman.Ibarat kata pemain bola. Kalau kita tidak mengejar bola, kita tidak akan dapat menendang bolanya.
            Kata-kata penuh makna yang disampaikan oleh Bapak Marsudi sangat menyentuh dan contoh nyata yang beliau berikan menyadarkan kami akan apa yang terjadi di dunia, terutama Indonesia saat ini. Sebenarnya, kami masih ingin berbincang lebih banyak dengan beliau, namun apa daya waktu membatasi perjumpaan kami. Sebelum berpisah, kami berfoto bersama sebagai kenang-kenangan dan berpamitan.Sekotak penuh kue dan sekotak mie goreng dibungkuskan oleh Ibu Sumiatun sebagai oleh-oleh.Pukul 12.00, kami dijemput kembali oleh panitia We Care untuk kembali ke kampus. Pertemuan kami tampaknya berakhir di sana, namun pada kenyataannya tidak karena pertemuan tersebut berlangsung untuk seterusnya, melainkan melalui semangat generasi muda membangun dan mempertahankan Indonesia.


-          I care, You care, We care-


Angie Michaela Marella - Jessica Monica - Sella Santi Ramadani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar