Senin, 19 Januari 2015

Senjata di Balik Kata

Angin bertiup kencang
Daun-daun berguguran
Berterbangan mengelus kaca
Sembari memainkan melodi sendu

Aku terdiam
Bersembunyi di balik atap
Berusaha meramaikan diri
Melepas semua pikir dan rasa

Akan tetapi, sebuah ponsel
Ya sebuah alat elektronik bersignal
Terkunci dalam sandi rahasia
Menyimpan sebuah senjata

Sebuah senjata?
Ya, sebuah senjata di balik kata
Kata singkat mematikan
Menembus rusuk menusuk hati

Senjata ampuh tak terkalahkan
Sederhana namun dalam
Memberi efek kuat akibat akumulasi
Akumulasi kata serupa berjuta kali

Senjata di balik kata
Menyerang sosok tak berdaya
Memaksanya tuk hanya diam
Dalam kesunyian malam

Angie Michaela Marella



Sibuk

S-I-B-U-K
Lima huruf berbeda
Membentuk sebuah kata
Kata sederhana
Penuh makna
Penuh tujuan
Penuh misteri

Sibuk
Kata yang tak asing
Sering terucap
Mewakili setumpuk cerita
yang tak tersebutkan

Angie Michaela Marella

Selasa, 27 Mei 2014

It is Life

Gula
Garam
Cuka
Kopi

Bunga mawar
Bunga bangkai

Hitam
Putih
Biru
Merah
Pelangi

Air mata
Uap
Bunga
Api

Awan
Tanah

Terbang
Jatuh
Berdiri
Tenggelam

It's all choice
and it is what life is....

Angie Michaela Marella

Ikhlas

Ikhlas
Sebuah kata...
kata yang basi
kata yang kuno
kata yang konvensional
kata yang hanya sebuah omong kosong

Ikhlas
Sebuah kata...
kata yang tak asing
kata penghibur
Tapi, apakah kata itu menghibur
Tidak

Iklas
Sebuah kata...
yang seakan sampah

Karena ikhlas...
bukanlah sebuah kata
melainkan kesadaran dan perasaan
akan realita hidup

Ikhlas lebih dari kata
Dialah keajaiban
Harta karun tak ternilai
yang selalu ada dan menopang
untuk bangkit dan berdiri tegak
mengukir hidup dengan senyuman
membentuk lukisan 'story of life'
yang indah dan paling sempurna

Angie Michaela Marella


Sabtu, 22 Maret 2014

Why?

Keluarga adalah rumah terindah dan abadi. Keluarga adalah tempat paling bahagia di mana kita berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi dan selalu menyayangi serta mendukung di belakang kita. Keluarga selalu ada apapun yang terjadi. Begitulah kata-kata yang sering kita dengar ataupun baca di berbagai tempat, bahkan mungkin itu pula yang kita percayai.

Tapi tidak selamanya itu semua benar. Tidak selamanya semua itu berlaku bagi semua orang. Faktanya, banyak anak yang memilih pergi bersama teman-temannya daripada pulang atau berada di rumah bersama keluarga. Banyak orang yang memilih bercerita dengan teman atau sahabatnya daripada keluarga sendiri, sehingga yang lebih mengetahui dirinya adalah temannya. Banyak pula orang yang kabur dari rumahnya untuk menenangkan diri. Masih banyak lagi fakta-fakta lainnya.

Mengapa? Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Semua orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anaknya apapun yang terjadi. Namun tidak semua orang tua menunjukkan atau mengucapkannya secara langsung. Bahkan terkadang ada yang memperlakukan anaknya dengan tidak baik, walaupun di balik itu semua ada tujuan baiknya yang mereka inginkan secara sadar maupun tidak. Akan tetapi setiap orang adalah manusia biasa, termasuk orang tua. Seringkali perlakuan mereka tanpa sengaja kurang tepat dan menyakitkan anaknya.

Banyak anak tidak nyaman berada di rumah karena merasa tidak dihargai dan diperhatikan. Terkadang seisi rumah sibuk dengan urusan mereka masing-masing sehinga tidak saling memberi perhatian. Orang tua bahkan kadang berpikir yang penting tanggung jawab saya untuk mencari nafkah untuk menghidupi anak, menyekolahkan anak, memberi makan anak, memberi anak uang, dan sebagainya telah saya berikan. Padahal anak berapapun usianya tetap membutuhkan perhatian keluarganya, terutama orang tuanya untuk berbincang tentang keseharian, masalah anak, dan lain-lain. Hal ini seharusnya dibiasakan sejak dini. Karena hubungan yang sudah terbiasa tidak dekat akan membuat anak cenderung tidak akan dekat dengan keluarga, melainkan lebih memilih bersama teman.

Hal lainnya yang dapat menyebabkan ini semua adalah kurangnya penghargaan sehingga ia merasa kurang dihargai. Hal yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah kita tidak mengucapkan terima kasih setelah dibantu oleh keluarga kita, terutama keluarga inti, seperti anak, ayah, ibu, kakak, atau adik. Kita enggan mengucapkan terima kasih dengan keluarga sendiri. Sedangkan dengan teman atau kerabat, kita membiasakan diri bersopan santun dengan mengucapkan terima kasih sekecil apapun bantuan yang kita terima.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali baik pada seseorang hanya bila ada mau atau perlunya, selebihnya dia akan biasa saja atau bahkan jahat. Bahkan hal tersebut sering terjadi dalam keluarga pula. Seringkali kita baik pada orang tua bila ingin minta dibelikan sesuatu, telah melakukan kesalahan, atau ingin mendapat uang tambahan.

Kita juga seringkali menyalahkan orang dengan seenaknya. Tanpa bukti atau pengetahuan akan penjelasan yang lengkap akan apa yang terjadi sesungguhnya. Kita senang menyalahkan orang lain tanpa introspeksi diri. Kita seringkali hanya mengingat buruknya orang saja dan terus mengungkit hal tersebut, sedangkan hal baiknya dilupakan begitu saja dan tidak diungkit-ungkit.

Satu hal lagi, kita sering enggan memuji keluarga sendiri di depan orangnya langsung. Kita seringkali membanggakan keluarga sendiri di depan orang lain saja atau di belakang orang yang bersangkutan. Kita seringkali tidak mau mengakui kehebatan saudara atau keluarga sendiri. Keluarga yang kita bicarakan di sini adalah keluarga inti. Kita seringkali tidak mau memuji keluarga kita di depan orangnya langsung, seperti "Kakak pintar sekali." Kita hanya mengucapkan atau memuji secara tidak langsung untuk membandingkan dengan orang lain, seperti "Kamu tuh belajar yang rajin kayak kakak kamu. Bisa belajar sendiri dia."

Bayangkan bila seseorang mendapat semua atau sebagian besar perlakuan di atas. Apakah ia akan merasa keluarga adalah tempat terindah? Mungkin bila ia bisa berada jauh dari keluarga dan bersama dengan orang lain yang mengerti dia, dia akan memilih tidak bersama keluarga. Sebagai contoh, ketika seseorang anak yang tidak terlalu dekat dengan keluarga, karena sejak kecil orang tuanya sibuk bekerja dan ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan pembantunya. Kemudian ketika ia di rumah selalu disalahkan dan dicela, apapun yang ia lakukan seakan salah. Kesalahan yang ia lakukan selalu dibesarkan dan diungkit. Sedangkan kebaikan dan prestasi dia tidak dihargai. Ketika ia mendapat prestasi yang baik, ia tidak mendapat apresiasi yang baik. Di sisi lain, saat ia bersama dengan temannya, bantuan sekecil apapun yang ia berikan selalu dihargai. Teman-temannya selalu mencari dan membutuhkan dia, serta tidak bersamanya hanya ketika butuh. Hal yang ia lakukan selalu diapresiasi bahkan lebih dari apa yang ia rasa telah berikan.

Apakah tidak mengherankan apabila ia merasa lebih nyaman berada di luar rumah? Apakah kita masih akan terkejut ketika ia mengatakan lebih bahagia dan hidup ketika di luar rumah? Apakah kita masih bingung ketika dia tidak setuju dengan pernyataan tentang keluarga yang telah ditulis di awal dan menganggap teman sebagai orang yang paling dekat, mengenal, mengerti, dan bahkan berharga dalam hidupnya?

Angie Michaela Marella

Rabu, 11 Desember 2013

Hati yang Tersakiti

Awalnya
Hati ini polos
Hati ini suci
Hati ini bersih

Seiring berjalannya waktu
Hati ini mulai terisi
Terisi suka duka
Terisi tangis tawa
Terisi keramaian dan kesepian
Terisi kebahagiaan dan kesedihan

Hingga
Suatu saat kukira
Kesepian itu akan musnah
Namun aku salah
Kesepian dan keramaian adalah sepaket
Layaknya suka dan duka
Tangis dan tawa
Kebahagiaan dan kesedihan
Kau tak dapat memilih satu

Aku
Bertahan menghibur diri
Meramaikan diri dengan segala apapun
Tanpa mengganggumu
Tanpa mengganggu kebahagiaanmu
Tanpa mengganggu keramaianmu

Aku berusaha
Berusaha tak mengganggumu
Tak merepotkanmu
Tak menyusahkanmu
Tak membuatmu pusing
Tak membuatmu kesal
Hanya membuatmu bahagia

Namun
Apa daya aku tak mampu
Aku terus merindukan dirimu
Tak ada yang dapat menggantikannya

Walaupun hati ini
Sering kau lukai
Sering kau hina
Sering kau cerca
Sering kau abaikan
Sering kau sakiti
Namun ia tetap bertahan

Walaupun
Kau memuji hati lain
Membanggakan hati lain
Membanding-bandingkan hati lain
Hati ini tetap bertahan
Bertahan dengan setia
Dengan setia menantimu

Entah apa yang ada di hati
Ia memilih bertahan
Bertahan di tengah kepahitan
Bertahan di tengah penderitaan
Bertahan di tengah hina dan cacian
Bertahan di tengah tamparan yang datang bertubi
Bertahan di tengah ketidakadilan ini

Hanya saja
Apabila hati ini dapat berbicara
Apabila hati ini dapat berharap
Ia akan memohon
Memohon agar kau menyadari
Menyadari betapa berharganya hati ini
Hati ini hati yang tersakiti
Inilah hati yang terus kau sakiti

Angie Michaela Marella

Tanpa Mimpi, Orang Seperti Kita Akan Mati

Berapa harga perjalanan dari Belitong menuju Sorbonne, Perancis? Mungkin kita butuh minimal 500 Euro untuk  bisa sampai di Sorbonne. Tapi Ikal dan Arai hanya butuh mimpi untuk bisa sampai, bahkan bersekolah di Universitas Sorbonne!

M
impi? Omong kosong. Itu hanyalah teori. ‘Mimpi bisa membawa kesuksesan’ hanya terjadi dalam cerita-cerita saja, bukan dalam kehidupan nyata. Mana mungkin hanya dengan bermimpi kita dapat sukses? Mungkin itulah yang sering terbesit dalam benak kita. Cerita di atas memang diambil dari sebuah novel, yakni Sang Pemimpi, namun apa yang dikisahkan dalam buku tersebut merupakan kisah nyata dari penulisnya, Andrea Hirata.
              Mimpi tanpa tindakan memanglah omong kosong, bagaikan sebuah mobil tanpa bahan bakarnya. Mimpi laksana komponen-komponen sebuah mobil yang telah ada, di mana komponen-komponen tersebut akan dirakit dengan seksama sesuai dengan rencana dan tujuan awal pembuatan komponen-komponen tersebut. Mimpi adalah sebuah awal bukan akhir. Awal di mana banyak kesuksesan menunggu pada akhirnya. Mimpi tersebut harus dipikirkan  dan direncanakan dengan matang, lalu dilaksanakan tahap demi tahap dengan baik.
              Susan Boyle menjadi salah satu bukti nyata kesuksesan yang berawal dari mimpi. Susan Boyle adalah pemenang kedua Britain’s Got Talent pada tahun 2009 yang sekarang telah menjadi penyanyi profesional. Perjuangannya meraih mimpi menjadi penyanyi professional memanglah tidak mudah. 47 tahun beliau berusaha memperjuangkan mimpinya yang beliau letakkan tak jauh dari keningnya, sehingga apapun yang beliau lakukan akan selalu mengingatkannya pada mimpinya. Layaknya sebuah pepatah dari sebuah film layar lebar Indonesia "Taruhlah mimpi 5 cm dari depan kening. Segala rintangan dapat kita hadapi, karena kita memiliki impian."
Mimpi tidak harus selalu besar. Mimpi dapat saja hanya berupa hal sederhana, misalkan mimpi dapat menjadi juara kelas. Tidak pernah ada kata salah pada mimpi. Tidak ada kata tidak mungkin atau ketinggian. Segalanya selalu MUNGKIN apabila ada mimpi, usaha, dan tekad yang kuat. Kembangkan pikiran dengan mimpi-mimpi yang akan menuntun kita untuk meraihnya. Hiduplah dengan mimpi atau jalanilah hidup dengan bernafaskan pada mimpi, bukan hidup dalam mimpi.
Mengapa jangan hidup dalam mimpi? Sebab hidup dalam mimpi seakan kita tidak sadar akan dunia nyata. Kita harus tetap hidup dalam dunia nyata dengan bernafaskan mimpi. Dalam hal ini, mimpilah yang akan menuntun, membimbing, mendukung, dan memotivasi kita dalam segala hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari di dunia  nyata. Mimpi akan terus membantu dan menemanikan kita di setiap langkah kaki dan setiap tangga yang kita naiki. Mimpi akan menguatkan kita pada setiap batu kerikil yang menghalangi kita.
Pepatah “tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati” sangat perlu untuk kita renungkan. Mati dalam pepatah di atas memanglah tidak harus mati secara fisik. Tanpa adanya sebuah mimpi, kita tidak akan tahu arah  hidup kita, tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Ironisnya bahkan kita tidak tahu sama sekali melakukan sesuatu untuk apa. Contoh sederhana, apabila kita tidak memiliki mimpi untuk hidup dengan tidak merasa kelaparan, akan membuat kita memiliki motivasi dan tujuan untuk makan. Secara lebih luasnya, kita akan berpikir untuk mencari uang atau pekerjaan demi membayai biaya hidup kita sendiri, termasuk makan di dalamnya. Apabila kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, kita akan hidup tanpa motivasi dan semangat yang dapat menyebabkan kita malas apabila diminta melakukan ini dan itu. Dengan adanya motivasi, kinerja kita untuk melakukan sesuatu akan lebih baik karena ada nafas mimpi dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Tanpa adanya mimpi, sekecil apapun itu, kita tidak akan menjadi apa-apa, bahkan dapat mati secara fisik pula. Sebagai contoh, seorang gadis yang tidak memiliki mimpi dan motivasi hidup setelah diputuskan oleh kekasihnya, dapat mengakhiri hidupnya dengan membunuh diri. Padahal apabila ia memiliki mimpi untuk menjadi seseorang yang sukses atau mimpi bahwa ia akan menjadi sosok yang mandiri, masalah layaknya batu kerikil yang ditemuinya di perjalanan hidupnya, seperti diputuskan oleh kekasihnya, tidak akan menjadi penghalang bagi dirinya untuk meraih mimpinya.
Mulailah bermimpi dari sekarang. Tidak pernah ada terlambat untuk memulai. Masa depan adalah milik kita. Masa depan kita, siapa yang tahu? Masa depan kita, kita sendirilah yang merencanakan, menyusun, dan menjalaninya. Genggamlah mimpi dan harapan sembari berlari menuju masa depan yang lebih baik. Percayalah pada mimpi yang indah, sebab selalu ada harapan dan jalan yang tersedia apabila kita serius dan setia pada mimpi kita dan berusaha meraihnya.



Angie Michaela Marella