Rabu, 30 Oktober 2013

Hati

Hati tak pernah bohong
Hati tak pernah salah
Hati tahu mana yang benar
Hati tahu pilihan yang tepat
Hati tahu ke arah mana harus berlabuh
Hati menuntun kita menuju hidup kita
Hati menuntun kita menuju masa depan
Hati hanya perlu diasah
Hati hanya perlu didengarkan
Biarkan hati yang berbicara
Biarkan hati yang mengungkapkan segalanya

Karena hatilah yang paling tahu siapa kita
Siapa diri kita sebenarnya dan apa yang kita inginkan

Angie Michaela Marella
Terinspirasi oleh Film 'Kata Hati'

Foto

Foto itu diriku
Foto itu aku

Foto itu hatiku
Foto itu cinta

Foto itu ingatanku
Foto itu memori

Foto itu serpihanku
Foto itu abstrak

Foto itu kisahku
Foto itu kenangan

Foto itu hidupku

Foto itu riwayat

Angie Michaela Marella

Sabtu, 28 September 2013

Syukur

Dalam hidup ini, seringkali kita berpikir menjadi orang lain itu jauh lebih bahagia daripada keadaan kita saat ini. Kita sering berpikir menjadi dia lebih enak. Saat kita belum sekolah, melihat saudara atau kakak sekolah, rasanya ingin segera sekolah. Saat kita masuk duduk d bangku sekolah, ingin rasanya segera lulus dan bisa kuliah karena berpikir kuliah akan lebih bebas, banyak waktu luang, bisa melakukan berbagai hal, dan lain-lain. Saat kuliah, seringkali kita bosan belajar dan berpikir bekerja lebih menyenangkan. Saat bekerja dan merasa letih, kita berpikir bahagianya mereka yang hanya angkat kaki dan uang terus mengalir pada mereka. Sebaliknya orang yang dipikirkan banyak orang bahagia pun, tidak selalu seperti itu. Putri kerajaan yang dikagumi banyak orang, mungkin sebenarnya ingin bebas berteman dengan banyak orang, bersosialisasi dengan bebas tanpa pandang bulu dan tanpa harus selalu diawasi. 

Di sisi lain, di saat kita sendiri tanpa kekasih, ingin rasanya memiliki kekasih yang dapat mengerti, memperhatikan, dan menyayangi kita. Namun di saat memiliki kekasih, seringkali kita dibuat pusing dan bosan. Di saat masih dalam masa pacaran atau masa muda, seringkali kita ingin segera menikah dan membangun keluarga. Tapi tak sedikit pula kita yang telah menikah, merasa tak sanggup menghadapi berbagai masalah dan cobaan, sehingga merindukan masa sebelum menikah dan kemudian bercerai. Sungguh ironis tampak hidup ini. 

Kita seakan tak pernah puas dan bersyukur. Kita selalu menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Seringkali kita ingin menjadi orang lain. Padahal semua akan ada ada jalannya masing-masing dan waktunya. Apa yang ada sekarang, seharusnya dapat kita syukuri dan jalani karena waktu tak dapat diputar kembali apabila kita menginginkannya. Untuk menjadi bahagia pun tidak harus terpaku dengan satu hal. Tapi banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan untuk memperoleh kebahagiaan. Dengan jalan manapun, kita akan selalu dapat bahagia, tergantung bagaimana kita melihat, menghargai, menjalani, dan mensyukurinya. Semua akan tiba pada waktunya karena kita hanya akan mendapatkan sesuatu apabila kita siap menerimanya dan seringkali untuk menguji kesiapan kita, kita dihadapkan pada berbagai cobaan. Dari semua ini, menjadi diri sendiri adalah kunci utama menemukan kebahagiaan karena dengan menjadi diri sendiri kita akan selalu memiliki jalan menuju kebahagiaan kita.

Angie Michaela Marella

Kamis, 18 Juli 2013

Relatif

Hidup ini memang tidak adil. Sebagian orang menjalani hidup dengan susah payah dan usaha setengah mati. Sedangkan sebagian lagi menjalani hidup dengan mudah dan bahagia, atau setidaknya tanpa membanting tulang seperti sebagian orang lainnya. Sebagian orang dapat dengan mudah atau setidaknya dengan usaha dan tenaga yang sama dengan orang lainnya memperoleh uang yang banyak atau setidaknya cukup untuk menafkahi biaya kehidupan keluarganya. Namun sebagian lagi hanya memperoleh uang minim untuk makan pas-pasan setelah membanting tulang seharian, bahkan terkadang uang tersebut pun tak cukup.

Bahkan kata 'adil' di sini saja tak tepat untuk digunakan. Adil di sini sangat relatif. Sebagai contoh, mungkin bagi orang yang berkekurangan atau pas-pasan, makan 500 ribu sebulan sudah cukup mahal karena pendapatan mereka hanya 1 juta. Mereka memandang orang yang menghabiskan 300 ribu sekali makan sangatlah boros. Tampak sekali kesenjangan sosial di sini. Namun, bagi orang kaya, 300 ribu itu biasa saja atau termasuk sedikit karena mereka memiliki uang 100 milyar. Bagi mereka 300 ribu hanya sepersekian uang mereka dan menganggap orang yang makan 500 ribu per bulan tersebut boros karena menghabiskan setengah uangnya untuk makan. Sungguh relatif hidup ini. Semua tergantung dari sisi mana dan siapa yang melihatnya.

Hidup ini sangat relatif. Bagi orang kalangan menengah ke bawah, dapat makan nasi dengan tempe dan tahu, atau bahkan dengan sepotong ayam saja sudah sangat nikmat. Bagi mereka yang memiliki banyak uang, mungkin hal tersebut biasa saja atau bahkan tidak nikmat. Sungguh aneh kehidupan ini, namun itu semua nyata.

Relatif. Memang. Hidup ini sangat relatif.

Angie Michaela Marella

Senin, 03 Juni 2013

Masa Depan

Masa depan...
Ya, siapa yang tahu?
Tak seorang pun tahu
Tak seorang pun mengerti

Namun...
Masa depan akan menjadi lebih indah
Berlari menuju masa depan
Dengan membawa mimpi dan harapan

Teruslah mengejar
Halangan, rintangan, hambatan datang
Jangan pernah menyerah
Untuk menyongsong masa depan

Percaya akan mimpi yang indah
Harapan akan selalu ada
Membawa masa depan yang indah
Bagaikan indahnya surga

Masa depan...
Kita yang menentukan
Kita yang menjalani
Mimpi dan harapan yang membuatnya indah

Liu Wen Hui - RDD

Itu

Itu..
Titik itu
Bersinar begitu terangnya
Begitu indahnya

Bersinar di tengah kegelapan
Di tengah kegelapan dan dinginnya malam
Mengisi kekosongan dan kehampaan
Dengan pancaran cahayanya

Menerangi segala kegelapan
Menghangatkan segala kedinginan
Menutupi segala kekosongan
Mewarnai segala kehampaan

Angie Michaela Marella

Sabtu, 01 Juni 2013

Pelangi


Pelangi...
Busurmu menjulang indah di langit
Melintas mewarnai langit nan biru
Merah, jingga, kuning, hijau
Biru, nila hingga ungu
Warnamu adalah keindahan dalam dunia ini
Keindahan bak bidadari cantik
Turun dari langit ke bumi
Mewarnai dunia ini
Mengukir senyum dalam sejuta milyar wajah
Banyak cerita tentangmu
Berjuta kisah terlukis di balik kilauan warnamu
Indahnya pelangi

Liu Wen Hui  - RDD
Edited by Angie Michaela Marella